orang miskin tidak boleh sakit

orang miskin tidak boleh sakit. jatuh sakit dapat membuat jatuh miskin. obat semakin mahal dan semakin sulit diakses. banyak cerita tentang pasien yang pulang karena tidak mampu lagi membayar obat dan biaya perawatan. deretan kalimat tersebut adalah hal yang selalu kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.

dulu para dukun (medicine man) di banyak komunitas masyarakat adat adalah penjaga kesehatan dan penerus pengetahuan cara mengusir penyakit. hutan juga lautan merupakan apotik kehidupan yang kian menyempit dan rusak. kini, yang kita butuhkan adalah pengingat, bahwa sehat adalah hak dasar manusia. maka obatpun bukan bisnis semata.

cover story majalah respect. edisi 10/2011

Posted under Books,Share by argolog on Thursday 6 October 2011 at 6:18 pm

rawan pangan

manusia membutuhkan minimal 2.100 kalori dari makanan setiap hari untuk dapat bertahan hidup. total, jumlah pangan untuk mengisi perut penduduk bumi melebihi kebutuhan penduduknya, tetapi ada satu milyar orang tidur dengan perut lapar. di indonesia ada 65,34 juta orang rawan pangan, artinya hanya makan 1 atau 2 kali setiap hari.

makanan menjadi menarik saat ada uang di kantong dan menemukan tempat makan yang dapat memuaskan selera. tapi penguasaan pangan di tangan sekelompok kepentingan, akan berakhir dengan semakin banyak orang yang tidur dengan perut lapar.

cover story majalah respect. edisi 09/2011

Posted under Books,Share by argolog on Wednesday 5 October 2011 at 2:05 pm

mangga memanggil pulang

tahukah kau kawan, pohon mangga di belakang rumah kita sedang berbuah. tak banyak memang seperti pohon mangga tetangga kita yang karena begitu banyaknya sampai berguguran buahnya saat masih kecil-kecil. mungkin dua atau tiga minggu lagi beberapa buahnya akan matang dan bisa dinikmati. jadi kawan, yang jauh di sana, yang sedang menimba ilmu di pulau seberang atau bahkan di negeri orang, yang sedang membanting tulang mencari nafkah, atau hanya sekedar mengembara menempuh rimba mendaki gunung menikmati derasnya riam-riam sungai. kalian masih punya kesempatan untuk pulang, menikmati buah mangga yang sudah matang, walaupun tak banyak jumlahnya. buah yang telah kita tunggu sekian tahun, sejak pohon mangga itu hanya setinggi tubuh kita…

Posted under the city by argolog on Tuesday 27 September 2011 at 9:58 am

belajar pengelolaan kolaboratif (lagi)

Louise E. Buck, Eva Wollenberg and David Edmunds. Pembelajaran Sosial Dalam Pengelolaan Kolaboratif Hutan Komunitas: Pelajaran Dari Lapangan dalam Pembelajaran Sosial Dalam Pengelolaan Hutan Komunitas, hal 4-5. Pustaka Latin. 2005

Mempelajari bagaimana mengelola hutan untuk memenuhi berbagai kepentingan – dari masyarakat lokal yang menyangkut mata pencaharian mereka hingga masyarakat yang jauh yang tertarik pada fungsi-fungsi ekologis dan pendapatan – merupakan tantangan yang penting saat ini. Hutan merupakan properti yang sering dipersengketakan di mana kelompok-kelompok yang berbeda bertujuan untuk mengambil manfaat hutan dengan cara yang tidak sesuai atau berjuang menjadi pihak pertama yang mendapatkan manfaat dengan pasti. Untuk menyeimbangkan berbagai kepentingan ini, terdapat banyak upaya untuk mengembangkan strategi dan mekanisme yang mempromosikan kolaborasi di antara kelompok dengan perbedaan kepentingan dalam pengelolaan hutan (Anderson et al. 1999; Fox et al. 1997; Western 1994).

(selengkapnya…)

Posted under Books,Share by argolog on Wednesday 25 May 2011 at 2:25 pm

berubah – beradaptasi

Masalah perubahan iklim di Indonesia biasanya dikaitkan dengan soal penggundulan hutan dan meningkatnya emisi gas rumah kaca kita. Orang Indonesia jarang mendengar sisi lainnya – dampak perubahan iklim global terhadap Indonesia. Kita sudah selalu berhadapan dengan berbagai bencana alam – kemarau panjang, banjir, gempa bumi, tsunami – tetapi kini sebagai akibat dari perubahan iklim, kita akan berhadapan dengan cuaca yang makin tidak menentu dan makin ekstrem, dengan berbagai akibat buruknya, terutama yang dapat menimpa masyarakat kita yang paling miskin.

halaman 3, Sisi lain Perubahan Iklim: Mengapa Indonesia harus beradaptasi untuk melindungi rakyat miskinnya, undp – indonesia, 2007

(selengkapnya…)

Posted under Books,Share by argolog on Tuesday 24 May 2011 at 2:22 pm

kota kecil nyaman huni

siapa tokoh arsitektur tempo tahun 2010, dalam beritanya tanggal 3 januari 2011, tim juri tempo memutuskan tokoh arsitektur tersebut bukan seorang individu atau kelompok masyarakat dengan mahakaryanya yang mumpuni ataupun unik tapi kepada kota-kota kecil nyaman huni di indonesia. disebutkan ada 8 kota yang akhirnya terpilih. kenapa juri memutuskan memilih kota-kota kecil tersebut, berikut segelintir alasannya: (selengkapnya…)

Posted under Share,the city by argolog on Friday 20 May 2011 at 7:32 pm

cerita pengantar tidur 1: tentang dataran tinggi krayan

anakku, di suatu tempat di pulau yang besar ini terhampar sawah di dataran tinggi yang menghasilkan beras dengan kualitas terbaik. sawah yang dikelola tanpa menggunakan pupuk kimia sehingga menghasilkan beras organik yang menyehatkan. sawah-sawah yang dibajak secara tradisional dengan menggunakan kerbau-kerbau dan telah dijalankan selama ratusan bahkan ribuan tahun.

anakku, suatu saat kau harus mendatangi tempat itu, tak mudah memang untuk mencapainya, tapi kau pasti tak menyesal bila telah tiba di sana, di tempat dimana beras-beras itu berasal, tempat sawah-sawah tersebut terhampar. barisan pegunungan yang membatasinya, pasti akan memancing keinginanmu untuk menjelajahinya. Ingatlah, dataran tinggi krayan namanya.

anakku, tahukah kau tentang suku lundayeh, mereka adalah masyarakat asli yang bermukim di dataran tinggi tersebut. sejarah panjang tentang mereka dapat kau lihat dari batu-batu berukir dan adat-budaya yang masih terjaga hingga kini. bergaul dan tinggalah bersama mereka, maka akan kau rasakan persaudaraan dan keramahtamahan mereka.

anakku, jangan lupa untuk nikmati beras adan mereka, beras adan putih, merah dan hitam. salah satu beras berkualitas terbaik yang harus kita nikmati. beras organik yang bermutu dan bergizi tinggi. nikmatilah selagi hangat dengan lauk sederhana di tengah udara dingin dataran tinggi. sambil menikmatinya pandanglah barisan pegunungan dari jendela rumah mereka, sebuah kenikmatan lain akan kau rasakan.

anakku, mimpilah yang indah, suatu saat kau akan mengunjungi dataran tinggi itu, merasakan keramahtamahan mereka dan menikmati kelezatan beras adannya.

Posted under Share by argolog on Wednesday 18 May 2011 at 8:58 am

apa kabar tarakan…

lama aku tak pulang mengunjungi simpangan pusat kotamu

Posted under the city by argolog on Sunday 15 May 2011 at 9:37 am

barang super

Beberapa hari yang lalu aku menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke Balikpapan, seperti biasa bus melewati hutan Bukit Soeharto yang dikiri-kanan jalan dipenuhi oleh pohon cepat tumbuh, seperti sengon dan akasia. Di sela-selanya ada sungkai dan beberapa jenis lokal.

Dibeberapa lokasi di luar hutan wisata Bukit Soeharto juga terdapat gerombolan sengon, yang katanya milik masyarakat, di sekitar tanaman lada masyarakat. Kalau dilihat dari ukurannya sengon-sengon tersebut sudah layak untuk ditebang, bahkan kalau kita tanyakan kapan panen pada penanamnya, pemanenan seharusnya sudah dilakukan beberapa tahun yang lalu. Lalu kenapa tidak dipanen? Bukankah tujuan menanam sengon itu dipanen kayunya lalu dijual. Kalangan rimbawan tentu tahu benar jawabannya, penanamnya juga. (selengkapnya…)

Posted under Share by argolog on Thursday 17 February 2011 at 9:49 pm

belum selesai…

Aku tinggal di desa Pohon Kayu yang terletak puluhan kilometer dari sebuah kota kecil, Batu Kali, yang juga merupakan pusat dari kecamatan yang bernama sama dengan kota kecil tersebut. Untuk mencapai desaku dari Batu Kali, ada angkutan pedesaan yang berupa mobil pick up yang telah ditambah tempat duduk kayu pada bagian baknya. Tempat duduk ini disusun berjajar pada sisi kiri dan kanannya, dimana penumpangnya akan duduk saling berhadapan. Tapi aku dan teman-temanku biasanya tidak akan duduk di bangku-bangku tersebut, kami lebih senang duduk atau berdiri di sisi bagian belakang bak mobil yang telah ditambahkan sebuah besi bulat yang cukup besar yang biasanya digunakan sebagai pijakan bagi penumpang yang ingin naik. Kami akan berteriak nyaring bila mobil terhempas setelah melewati badan jalan yang semenjak dulu tak pernah bagus-bagusnya. Jalan menuju desa kami merupakan jalan tanah yang mengeras dengan sendirinya akibat seringnya dilewati mobil sejak puluhan tahun lalu, jalan tersebut merupakan satu-satunya jalan penghubung desa kami dengan Batu Kali yang dapat dilalui mobil. (selengkapnya…)

Posted under Books by argolog on Thursday 17 February 2011 at 9:30 pm

Next Page »