pasar simpang tiga
dahulu ada sebuah pasar, pasar ini tak terlalu jauh dari rumah, kurang lebih 5 menit berjalan kaki dari rumahku. karena letaknya tepat di simpang tiga jalan (sekarang simpang empat), maka dinamakan pasar simpang tiga.
sebagai pasar tradisional kondisinya sama dengan pasar tradisional lainnya di kota-kota indonesia. kotor, kumuh, jorok, tak teratur dan berbagai macam atribut yang biasanya melekat pada pasar tradisional. walau begitu, pasar ini dulunya menjadi urat nadi kehidupan masyarakat sekitar, segala aktivitas harian bermula disana. selepas subuh orang-orang bergegas menuju kesana, tentu dengan tujuan mendapatkan barang-barang yang secara kualitas masih sangat baik. semakin siang barang-barang dagangan (sayur dan ikan) akan semakin sedikit dijumpai dan kualitasnya pun kurang baik.
selama hampir 2 bulan aku pernah harus pergi kesana selepas subuh, beruntung setiap harinya, aku hanya diminta untuk membeli 5 kilogram daging sapi, 2 buah kelapa yang diparut dan kurang lebih 20 buah timun. aku masih kelas satu smp waktu itu, dan itu harus kujalani karena kakakku melahirkan anak ketiganya. daging sapi yang kubeli terletak dibagian (los) pasar daging, dan pemiliknya beretnis tionghoa (aku lupa namanya). ia akan segera mencarikan bagian daging terbaik bila aku muncul di hadapannya. sebagai langganan ia tahu bagian daging yang mana yang harus kubeli. pasar daging ini bergabung dengan pasar ikan, bagian ini hampir selalu basah, jadi aku harus berhati-hati bila berjalan dibagian ini. dan baunya, minta ampun, yang membuatku ingin cepat-cepat menyelesaikan transaksi dan pergi. setelah itu membeli timun, pilih yang bentuknya bagus, jangan terlalu tua atau muda, begitulah pesan ibuku. selanjutnya membeli kelapa yang diparut. bila telah selesai langsung pulang dan bersiap-siap untuk sekolah. terkadang ada barang-barang lain yang harus dibeli, beruntung aku cukup mengenal seluk beluk pasar ini, jadi tak masalah buatku.
sekali waktu, ibuku ikut bersama. biasanya cukup banyak barang yang dibeli. jadi mesti berkeliling-keliling pasar cukup lama. yang paling kusuka bila berbelanja jajanan pasar. cenil, apam, ketan, dan banyak lagi jajanan lainnya. atau bila diajak kebagian penjual pakaian. wah, pasti bakal dapat baju baru kalau singgah di tempat itu.
kini, tak ada lagi pasar tradisional di simpangan itu, berganti dengan pusat perbelanjaan besar yang bergandeng dengan hotel megah. tak ada lorong-lorong yang jalannya tak pernah tak becek. tak ada lagi belatung yang terkadang menghiasi pasar daging dan ikan. tak ada lagi penjual jajanan yang berseliweran di lorong-lorong. tak ada lagi penjual pakaian dengan harga yang bisa ditawar hampir setengah harga asalnya. oleh pemerintah kota pasar itu dipindah lebih dalam ke strat buntu (jalan gajah mada), tepatnya sekarang bernama pasar gusher, belum pernah aku masuk ke pasar itu, walaupun sering berbelanja di ramayana gusheryang terletak di gedung bagian atas.
tak ada lagi pasar simpang tiga.