subuh

subuh ini aku menyempatkan untuk berjalan-jalan di seputaran simpang tiga, cukup lama hal ini tak kulakukan, apalagi sekarang aku tak benar-benar tinggal di tarakan. hembusan angin menyapaku, bau udara lautpun terhirup. ini bau yang khas, yang tak bisa kudapatkan di semua tempat, hanya tempat-tempat di tepi laut yang menyediakannya. kembali membayangkan kota ini sewaktu aku kecil hingga sma dulu, walau kini wajah kota pulau ini tak lagi sama, namun udara dan bau lautnya masih tercium hingga sekarang. angin terus berhembus yang ditandai dengan kibaran kain-kain spanduk iklan operator telpon seluler. dulu hal ini akan ditandai dengan goyangan dan guguran daun-daun, namun kini hampir semua pohon-pohon itu menghilang. beberapa orang petugas kebersihan terlihat menyapu jalanan, debu-debu pun ikut berterbangan karenanya, dan aku pun beranjak pulang, segelas coklat panas pastinya cukup untuk menghangatkan tubuh.

Posted under the city by argolog on Sunday 23 March 2008 at 8:49 pm

suatu malam di jantung kalimantan

tepat jam 12 malam musik menghentak bergema di sebuah kampung di jantung pulau, bergiliran lagu berlirik bahasa lokal, indonesia dan asing diperdengarkan. laki-perempuan menyatu larut hanyut dalam irama musik, tak ada batasan usia. selama mata masih terbuka selama kaki masih bisa menyangga tubuh tangan masih terayun. segentong minuman beralkohol lokal menemani, daging babi dan ikan yang diawetkan dalam cairan garam melengkapi. malam seakan tanpa akhir, walau waktu terus berjalan, jarum jam terus berputar menandakan perubahan waktu. nafas-nafas yang berbau alkohol berteriak, tertawa dan menjerit, kaki-kaki terus menghentak, tangan-tangan terus terayun, musik terus bergema dibantu sebuah alat pengeras yang bisa membangunkan seisi kampung. tak terasa saat itu sedang berada di sebuah kampung di tengah rimba jantungnya pulau kalimantan. dan aku, tersiksa dalam kamar di sebelah tempat mereka berkumpul, badanku lelah, letih setelah seharian berpikir dan berjalan menyusuri hutan. aku butuh keheningan malam yang biasanya mudah kudapatkan di kampung. tapi musik itu, suara itu, bau alkohol itu seakan tak bisa berhenti dan memenuhi kepalaku. aku ingin sekali tidur, dan itu baru kudapatkan tepat pukul lima pagi, saat mereka pergi, bukan untuk tidur tapi pindah ketempat lain, samar-samar musik dan tawa masih terdengar, kantukku tak tertahankan lagi, aku tertidur walaupun tak kudapatkan keheningan yang kudambakan

Posted under Share by argolog on Tuesday 4 March 2008 at 3:27 pm