suatu malam di jantung kalimantan
tepat jam 12 malam musik menghentak bergema di sebuah kampung di jantung pulau, bergiliran lagu berlirik bahasa lokal, indonesia dan asing diperdengarkan. laki-perempuan menyatu larut hanyut dalam irama musik, tak ada batasan usia. selama mata masih terbuka selama kaki masih bisa menyangga tubuh tangan masih terayun. segentong minuman beralkohol lokal menemani, daging babi dan ikan yang diawetkan dalam cairan garam melengkapi. malam seakan tanpa akhir, walau waktu terus berjalan, jarum jam terus berputar menandakan perubahan waktu. nafas-nafas yang berbau alkohol berteriak, tertawa dan menjerit, kaki-kaki terus menghentak, tangan-tangan terus terayun, musik terus bergema dibantu sebuah alat pengeras yang bisa membangunkan seisi kampung. tak terasa saat itu sedang berada di sebuah kampung di tengah rimba jantungnya pulau kalimantan. dan aku, tersiksa dalam kamar di sebelah tempat mereka berkumpul, badanku lelah, letih setelah seharian berpikir dan berjalan menyusuri hutan. aku butuh keheningan malam yang biasanya mudah kudapatkan di kampung. tapi musik itu, suara itu, bau alkohol itu seakan tak bisa berhenti dan memenuhi kepalaku. aku ingin sekali tidur, dan itu baru kudapatkan tepat pukul lima pagi, saat mereka pergi, bukan untuk tidur tapi pindah ketempat lain, samar-samar musik dan tawa masih terdengar, kantukku tak tertahankan lagi, aku tertidur walaupun tak kudapatkan keheningan yang kudambakan
ikut mabuk aja sekalian, habis itu langsung tidur...
hmm... itu memang bikin kita berfikir, tradisi atau usaha membodohkan. kukira yang kedua.
coba bawa R-OHnya keluar dari jantung itu...
Namanya juga jantung, harusnya memang berdegub agar tetap hidup
mending ikutan aja sekalian, tapi jangan pilih R-OH pilih minum coke aja...
emang di pub....
he..he..he..