derita negeri puncak dunia

pesta itu begitu mengagumkan, dibuka dan ditutup dengan meriah, ditingkahi dengan semangat menjadi pemenang dan sportivitas yang tinggi, mereka mengemasnya dengan begitu manis, sehingga orang-orang terlena dan lupa, akan penderitaan masyarakat di sebuah negeri di puncak dunia.

Posted under Share by argolog on Sunday 24 August 2008 at 9:00 pm

jembatan itu

jembatan itu kini direnovasi, kali ini bukan lagi jembatan kayu, beton-beton pemancang sudah terpasang, tak lama lagi jembatan itu selesai sudah, menjadi jembatan beton bertulang besi, tak akan lagi bunyi gemeretak kayunya saat dilewati kendaraan bermotor, tak bisa lagi mengintip aliran air disela-sela papan yang dipasang jarang, mungkin nanti ia bukan lagi jembatan yang menakutkan anak-anak di malam hari, yang akan berlari setiap melewatinya, mungkin nanti kendaraan bermotor tak lagi mengurangi kecepatannya saat melintasi jembatan, yah semua telah dan akan berubah, tak mungkin berharap selalu seperti dulu, tak ada pembangunan namanya kata temanku.

Posted under the city by argolog on Sunday 24 August 2008 at 8:53 pm

saat sore menjelang malam

aku ingat saat sma dulu, saat sore menjelang malam, yang kuhabiskan di depan panggangan sate, sementara bergumul dengan asap yang terkadang memedihkan mata, sebagai pemanggang sate cadangan, sampai datang sang pemanggang asli setelah ia selesai makan malam, setelah itu pulang, mandi dan makan malam, menonton tivi sejenak, kemudian mengerjakan pr bila ada, membaca buku sambil tidur-tiduran, kemudian tidur, lima ribu rupiah lagi kudapatkan malam ini.

Posted under Share by argolog on Sunday 24 August 2008 at 8:42 pm

jangan menyesal bos

makanya jangan bangun kesiangan, akibatnya kau batal mengelilingi kota ini untuk tujuan mulia (menurutmu) melihat dan menghayati upacara bendera peringatan kemerdekaan negara. tak perlulah menyesal tak ikut berbaris dan menghormat bendera walaupun kau telah lama tak melakukannya dan saat ini ingin sekali melakukannya. inilah akibatnya bila kau bangun kesiangan dan apa yang telah kau rencanakan semalam tak dapat terlaksana. dan bila kau masih ingin melakukan niat muliamu itu, tunggulah tahun depan, aku yakin upacara benderanya masih ada.

Posted under Persons by argolog on Sunday 17 August 2008 at 2:00 pm

kepiting

hutan bakau itu menjadi tempat persembunyiannya. kota pulau ini terletak tepat di delta sungai kayan dengan kawasan hutan bakau yang sangat luas. entah yang sudah rusak atau yang belum berubah sama sekali. dan kawasan hutan bakau itu, juga yang terdapat di kota pulau, menjadi tempat hidup bagi makhluk bercapit yang dagingnya terasa lezat sekali, paling tidak bagiku.

dan di kota pulau ini, dunia kuliner mengenalnya sebagai surganya masakan kepiting. ada tiga rumah makan yang sangat dikenal, paling tidak bagi kami, menyajikan masakan berbahan kepiting. kepiting saos super tarakan, b21 dan bais cafe. mungkin masih ada rumah makan yang lain tapi rumah makan tersebutlah tempat kami biasanya menyantap kepiting.

buatku, masih ada satu tempat lagi dimana aku bisa menikmati kelezatan masakan kepiting, di rumahku sendiri di kota pulau ini, kepiting masak kecap biasa dihidangkan oleh ibu atau kakakku. dan biasanya yang dimasak adalah kepiting berukuran besar yang jarang kudapatkan di rumah makan. kepiting bakau, kami biasa menyebutnya. ditambah makan tanpa malu-malu di rumah sendiri yang tak dibatasi waktu, menambah kenikmatan menyantap kepiting.

jadi jangan lupa, menikmati masakan kepiting di kota pulau ini saat anda berkesempatan berkunjung atau hanya sekedar mampir.

Posted under the city by argolog on Sunday 17 August 2008 at 1:53 pm

krisis listrik

kota ini terus berubah, bangunan-bangunan baru berukuran besar terus bermunculan. sekedar rumah tinggal, ruko, mini market, pusat pertokoan, mall dan hotel bagai jamur dimusim hujan. beberapa bagian yang pernah aku datangi dulu bahkan kini menjadi asing dan menyesatkanku. di saat malam lampu-lampu menerangi seluruh pelosok kota, terutama di simpang tiga (sekarang simpang empat). malam pun seperti menjadi lebih panjang dibandingkan dulu. kebutuhan akan pasokan listrikpun semakin meningkat. beberapa tahun lalu saat kota-kota lain di propinsi ini mengalami krisis listrik, kota ini mampu bertahan memenuhi kebutuhan pasokan listrik yang semakin meningkat. bahkan warganya sanggup membayar tarif dasar listrik per kwh lebih tinggi dibandingkan tarif dasar pln, tentu saja dengan jaminan listrik yang tidak byar pet. tapi krisis listrik itu seperti penyakit menular, terutama bila mesinnya masih berbahan baku minyak dan gas. krisis minyak dan gas di negara ini membuat semaput pembangkit-pembangkit listrik yang membutuhkannya. sebuah ide “cerdas” disampaikan, untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara, tentu banyak pihak, terutama warga kota, menyambut baik usulan ini. tapi sayangnya batubara yang akan digunakan berasal dari kota ini. entah apa karena biaya yang lebih murah atau ada alasan lain. padahal kota ini terletak di sebuah pulau kecil, padahal kawasan yang akan diambil batubaranya merupakan kawasan lindung kota. banyak yang takut akan dampak kerusakan lingkungan yang bisa ditimbulkan. tapi warga kota selalu dibayangi akan krisis listrik. walaupun sebenarnya masih bisa membeli batubara dari kabupaten tetangga kota ini. walau beberapa bulan ini tak ada lagi berita tentang hal itu, suatu saat pasti akan mencuat kembali, seiring meningkatnya kebutuhan akan pasokan listrik.

tapi biarlah kami melupakannya, sabagai mana orang-orang mulai melupakan menyebut simpang tiga, sebagai mana anak-anak menyebutnya thm atau grand mall.

Posted under the city by argolog on Wednesday 13 August 2008 at 10:27 pm