krisis listrik
kota ini terus berubah, bangunan-bangunan baru berukuran besar terus bermunculan. sekedar rumah tinggal, ruko, mini market, pusat pertokoan, mall dan hotel bagai jamur dimusim hujan. beberapa bagian yang pernah aku datangi dulu bahkan kini menjadi asing dan menyesatkanku. di saat malam lampu-lampu menerangi seluruh pelosok kota, terutama di simpang tiga (sekarang simpang empat). malam pun seperti menjadi lebih panjang dibandingkan dulu. kebutuhan akan pasokan listrikpun semakin meningkat. beberapa tahun lalu saat kota-kota lain di propinsi ini mengalami krisis listrik, kota ini mampu bertahan memenuhi kebutuhan pasokan listrik yang semakin meningkat. bahkan warganya sanggup membayar tarif dasar listrik per kwh lebih tinggi dibandingkan tarif dasar pln, tentu saja dengan jaminan listrik yang tidak byar pet. tapi krisis listrik itu seperti penyakit menular, terutama bila mesinnya masih berbahan baku minyak dan gas. krisis minyak dan gas di negara ini membuat semaput pembangkit-pembangkit listrik yang membutuhkannya. sebuah ide “cerdas” disampaikan, untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara, tentu banyak pihak, terutama warga kota, menyambut baik usulan ini. tapi sayangnya batubara yang akan digunakan berasal dari kota ini. entah apa karena biaya yang lebih murah atau ada alasan lain. padahal kota ini terletak di sebuah pulau kecil, padahal kawasan yang akan diambil batubaranya merupakan kawasan lindung kota. banyak yang takut akan dampak kerusakan lingkungan yang bisa ditimbulkan. tapi warga kota selalu dibayangi akan krisis listrik. walaupun sebenarnya masih bisa membeli batubara dari kabupaten tetangga kota ini. walau beberapa bulan ini tak ada lagi berita tentang hal itu, suatu saat pasti akan mencuat kembali, seiring meningkatnya kebutuhan akan pasokan listrik.
tapi biarlah kami melupakannya, sabagai mana orang-orang mulai melupakan menyebut simpang tiga, sebagai mana anak-anak menyebutnya thm atau grand mall.