bersama amin maalouf, dominique lapierre, harper lee dkk

baru saja selesai mendengarkan amin maalouf bercerita tentang samarkand, sementara tepat di sebelahnya terbaring dominique lapierre yang untuk sementara kuminta berhenti bercerita tentang negeri bahagia atau anand nagar atau city of joy, sementara harper lee belum lagi membuka selubung plastiknya dan mengambil posisi tepat di pojok tempat tidur, ia ingin bercerita tentang to kill a mocking bird, entah kapan dominique selesai bercerita, padahal mereka berdua telah datang lebih dulu dibandingkan amin maalouf, dan dee sudah mengabarkan bahwa dia akan datang membawa berita tentang rectoverso, katanya dia tidak hanya akan bercerita tapi juga bernyanyi, gola gong telah bersembunyi di pojok ruangan tak ada lagi yang bisa dia ceritakan setelah akuselesai mendengar ceritanya tentang labirin lazuardi, sementara itu lian hearn telah pergi membawa kisah klan otorinya, tapi ia berjanji datang kembali dengan kisah klan otorinya yang keempat, yah kawan-kawanku ini datang silih berganti membawa ceritanya masing-masing, hanya sayangnya aku harus menanggung biaya kedatangan mereka…

Posted under Books by argolog on Thursday 30 October 2008 at 8:41 pm

rectoverso

katanya dah ada di toko buku, mesti nyaipin duit lagi nih…

Posted under Books by argolog on Thursday 30 October 2008 at 8:00 pm

di hulu sungai

selama bekerja di beberapa tempat, tak terasa telah menginjakan kaki di kampung paling hulu, beberapa masih membekas dengan baik, seperti long suluy di hulu sungai kelay dengan kepolosan masyarakatnya dengan semangat mereka mempertahankan sumberdaya alam mereka dari gempuran pengusaha emas, yang masyarakatnya duduk berjongkok berkumpul pagi-pagi sekali untuk sekedar bergosip atau membicarakan kehidupan mereka, kadang tawanya membangun kami bila kebetulan mereka ngobrol di dekat pondok kami, anak-anak mereka adalah anak-anak hutan dan sungai, yang waktunya dihabiskan untuk menjelajah hutan atau menyelam menombak ikan di sungainya yang mengalir jernih, ingat juga aku pada desa long pala di hulu sungai mentarang, yang pada saat air kecil kita harus berjalan kaki untuk mencapainya, membutuhkan waktu tiga jam bagiku untuk bisa mencapainya, tapi bagi masyarakat lokal tak sampai dua jam, dari malinau sendiri perlu waktu satu hari menggunakan long boat dilanjutkan satu hari menggunakan ketinting dan selanjutnya jalan kaki, itu bila air sungai sedang kecil atau surut atau apalah namanya, menyusuri pinggiran sungainya bahkan terkadang menyeberanginya, memanjat bebatuan yang menghiasi tepi sungai, terbayarkan dengan keindahan alamnya, kejernihan sungainya, dan ketenangan desanya, ingat juga dengan kampung punan mahkam di hulu sungai segah, yang masyarakatnya mengeluh melihat sungai mereka mengalir keruh saat pengusaha tambang emas sedang bekerja, tak masalah bila masyarakatnya sendiri yang melakukan, tapi “orang luar” juga melakukannya, tentu dengan membayar fee yang tidak bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat kampung, ingat juga dengan apau ping di hulu sungai bahau dimana kami ditunggui dan disambut hampir seluruh masyarakat desa hanya untuk bisa bersalaman dengan kami, belum lagi atraksi tarian spontan yang mereka tampilkan, dan kami diantarkan untuk menengok sang banteng liar di pagi dan sore hari di padang rumputnya (yang pernah kuimpikan sejak awal kuliah dulu), dan malam hari hidangan sup (sayur) ikan dan ikan bakarnya menggugah selera, juga teringat akan desa tau lumbis di hulu sungai sembakung, dengan papan pinakatapnya, ulung buayanya, tari-tariannya, ikan tamba dan tuaknya, juga tari (joget?) semalam suntuknya, tapi desanya begitu indah, masyarakatnya begitu ramah yang menghidangkan makanan pada kami tanpa diminta, semuanya sungai itu punya giram-giram yang menawan sekaligus mematikan, menarik dan mendorong perahu adalah hal yang biasa, semua saling membantu dan bergotong royong, mengingatnya membuatku ingin kembali kesana

Posted under Promote by argolog on Wednesday 29 October 2008 at 10:30 pm

pesta

sebentar lagi pesta itu akan dimulai, memperingati sembilan tahun kelahirannya, stan-stan pameran dibangun untuk memperlihatkan kemajuan pembangunan, program-program yang dikerjakan atau sekedar berjualan, beberapa kegiatan lain juga dipersiapkan, tentang budaya tentang olahraga tentang kemeriahan dan keindahan, ratusan (mungkin ribuan?) kayu digunakan untuk membuat stan, pohon-pohon nipah kehilangan dahannya mungkin jumlahnya ratusan bisa juga ribuan, puluhan juta mungkin juga ratusan juta rupiah dikeluarkan, untuk menyambut pesta itu, namanya juga pesta jadi harus meriah katanya, banyak orang sudah membayangkan hadiah-hadiah yang terpajang dan apakah mereka akan beruntung mendapatkannya, apakah sepeda motor atau hanya sepedanya saja tanpa motor, mungkin juga kipas angin atau kompor gas yang harga lpgnya semakin melambung, di stan yang lain berhadiah penanak nasi dan setrika, jadi lupa di stan yang ini ada informasi tentang itu, dan di stan yang itu kita bisa belajar tentang anu, jangan lupa siapkan uang jajan karena banyak warung bertebaran di lokasi pameran, o ya malam hari akan ada artis yang akan menghibur, mulai dari artis ibu kota (kecamatan) sampai dengan artis ibu kota  (negara), namanya juga pesta ya memang harus seperti itu, selembar demi selembar rupiah terus mengalir bahkan juga segepok demi segepok dikeluarkan, tak apalah namanya juga berpartisipasi dalam pesta, setelah itu semuanya selesai, stan-stan dibongkar meninggalkan sampah yang menumpuk, sebagian kayu beruntung bisa digunakan memperbaiki rumah sebagian lagi digunakan untuk membakar batu bata, orang-orang kembali kerutinitas masing-masing, ada yang masih tersenyum gembira mendapatkan sepeda motor atau ya paling tidak punya kipas angin baru, yang lain berharap pesta berikutnya akan lebih beruntung, para pedagang berhitung keuntungan, si kevin kecil tetangga sebelah kantor tentu senang mendapatkan mainan baru dan banyak lainnya, hanya segilintir yang mengingat berapa besar kemajuan pembangunan kabupaten ini itupun karena ada pertanyaan pada stan yang berhadiah menggiurkan, yang lain menunggu pesta ini hadir kembali, untuk merasakan kemeriahan dan kemegahannya, pesta berikutnya harus lebih meriah katanya, masing-masing instansi berhitung pengeluaran, mungkin puluhan bahkan mungkin ratusan juta jumlahnya, tapi itu tak seberapa dibandingkan kegembiraan masyarakatnya, pesta tempatnya orang bergembira, jadi tak perlu berhtung berapa yang dikeluarkan, selamat berpesta kalau begitu…

Posted under Share by argolog on Wednesday 29 October 2008 at 11:21 am

kepada burung

sudah lama sekali aku tak menengokmu, mendengarkan suaramu, apalagi mengamati tingkah lakumu; seakan ada yang menutup mata dan telingaku, juga mengikat kakiku dan membelengu tubuhku; teringat saat bersama kawan dulu, berbagi pengetahuan dengan yang lain, agar mau menengok dan mendengarkan suaramu; karena kau selain cantik juga merupakan indikator; tentang rusak tidaknya lingkungan ini, tentang perubahan musim di tempat lain, tentang siklus hidup dan ekologi di bumi; membaca dan mendengar berita kawan lain yang selalu menyempatkan diri mengamatimu juga kawan-kawanmu yang saat ini sedang melakukan perjalanan dari utara ke selatan; entah kapan bisa melakukannya, walau hanya sekedar melihat dan mendengarkan kawan-kawanmu di sebelah kantorku

Posted under Share by argolog on Tuesday 14 October 2008 at 10:44 pm

menunggu pulang

aku ingin segera pulang kepada kawan kepada kehendak hati terlebih kepada istri dan anak-anakku di rumah; aku merindukan semua akan gairah, emosi, kata-kata dan hasrat kawan-kawanku juga kelembutan, kehangatan dan kepolosan istri dan anak-anakku; jadi kapan? kata hatiku; pikirkan juga orang-orang yang kau cintai, bagian diriku yang lain berkata; jangan terlalu banyak berpikir! kata yang lain; jangan sampai menyesal! yang lain menimpali; jalan pulang itu terbentang lebar, sementara kenyamanan ini menghambatku; jalan pulang itu ada di hadapanku, sementara rumah ini begitu hangat mendekapku; kalau begitu tunggulah sampai kau siap, tapi diri ini semakin bertambah resah setiap saat; akan ada saatnya untuk pulang, tapi aku sudah tak sabar untuk kembali; maaf kawan, maaf istri dan anak-anakku, sudikah kalian menungguku pulang

Posted under Words by argolog on Tuesday 14 October 2008 at 10:33 pm