di hulu sungai
selama bekerja di beberapa tempat, tak terasa telah menginjakan kaki di kampung paling hulu, beberapa masih membekas dengan baik, seperti long suluy di hulu sungai kelay dengan kepolosan masyarakatnya dengan semangat mereka mempertahankan sumberdaya alam mereka dari gempuran pengusaha emas, yang masyarakatnya duduk berjongkok berkumpul pagi-pagi sekali untuk sekedar bergosip atau membicarakan kehidupan mereka, kadang tawanya membangun kami bila kebetulan mereka ngobrol di dekat pondok kami, anak-anak mereka adalah anak-anak hutan dan sungai, yang waktunya dihabiskan untuk menjelajah hutan atau menyelam menombak ikan di sungainya yang mengalir jernih, ingat juga aku pada desa long pala di hulu sungai mentarang, yang pada saat air kecil kita harus berjalan kaki untuk mencapainya, membutuhkan waktu tiga jam bagiku untuk bisa mencapainya, tapi bagi masyarakat lokal tak sampai dua jam, dari malinau sendiri perlu waktu satu hari menggunakan long boat dilanjutkan satu hari menggunakan ketinting dan selanjutnya jalan kaki, itu bila air sungai sedang kecil atau surut atau apalah namanya, menyusuri pinggiran sungainya bahkan terkadang menyeberanginya, memanjat bebatuan yang menghiasi tepi sungai, terbayarkan dengan keindahan alamnya, kejernihan sungainya, dan ketenangan desanya, ingat juga dengan kampung punan mahkam di hulu sungai segah, yang masyarakatnya mengeluh melihat sungai mereka mengalir keruh saat pengusaha tambang emas sedang bekerja, tak masalah bila masyarakatnya sendiri yang melakukan, tapi “orang luar” juga melakukannya, tentu dengan membayar fee yang tidak bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat kampung, ingat juga dengan apau ping di hulu sungai bahau dimana kami ditunggui dan disambut hampir seluruh masyarakat desa hanya untuk bisa bersalaman dengan kami, belum lagi atraksi tarian spontan yang mereka tampilkan, dan kami diantarkan untuk menengok sang banteng liar di pagi dan sore hari di padang rumputnya (yang pernah kuimpikan sejak awal kuliah dulu), dan malam hari hidangan sup (sayur) ikan dan ikan bakarnya menggugah selera, juga teringat akan desa tau lumbis di hulu sungai sembakung, dengan papan pinakatapnya, ulung buayanya, tari-tariannya, ikan tamba dan tuaknya, juga tari (joget?) semalam suntuknya, tapi desanya begitu indah, masyarakatnya begitu ramah yang menghidangkan makanan pada kami tanpa diminta, semuanya sungai itu punya giram-giram yang menawan sekaligus mematikan, menarik dan mendorong perahu adalah hal yang biasa, semua saling membantu dan bergotong royong, mengingatnya membuatku ingin kembali kesana
bikin beberapa paragrap pang, biar kadak bacanya
itu bahkan belum selesai satu alenia bos. coba liat belum ada "titik".
harap maklum kawan, saya bukan penulis yang baik