<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>simpang tiga</title>
	<atom:link href="http://simpangtiga.lingkungan.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://simpangtiga.lingkungan.org</link>
	<description>tak ada lagi pasar, tak ada lagi strat buntu, tak ada lagi simpang tiga</description>
	<lastBuildDate>Thu, 06 Oct 2011 10:18:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>orang miskin tidak boleh sakit</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/10/06/orang-miskin-tidak-boleh-sakit/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/10/06/orang-miskin-tidak-boleh-sakit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 10:18:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[orang miskin tidak boleh sakit. jatuh sakit dapat membuat jatuh miskin. obat semakin mahal dan semakin sulit diakses. banyak cerita tentang pasien yang pulang karena tidak mampu lagi membayar obat dan biaya perawatan. deretan kalimat tersebut adalah hal yang selalu kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. dulu para dukun (medicine man) di banyak komunitas masyarakat adat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>orang miskin tidak boleh sakit. jatuh sakit dapat membuat jatuh miskin. obat semakin mahal dan semakin sulit diakses. banyak cerita tentang pasien yang pulang karena tidak mampu lagi membayar obat dan biaya perawatan. deretan kalimat tersebut adalah hal yang selalu kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>dulu para dukun (<em>medicine man</em>) di banyak komunitas masyarakat adat adalah penjaga kesehatan dan penerus pengetahuan cara mengusir penyakit. hutan juga lautan merupakan apotik kehidupan yang kian menyempit dan rusak. kini, yang kita butuhkan adalah pengingat, bahwa sehat adalah hak dasar manusia. maka obatpun bukan bisnis semata.</p>
<p><em>cover story majalah respect. edisi 10/2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/10/06/orang-miskin-tidak-boleh-sakit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rawan pangan</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/10/05/rawan-pangan/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/10/05/rawan-pangan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Oct 2011 06:05:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=277</guid>
		<description><![CDATA[manusia membutuhkan minimal 2.100 kalori dari makanan setiap hari untuk dapat bertahan hidup. total, jumlah pangan untuk mengisi perut penduduk bumi melebihi kebutuhan penduduknya, tetapi ada satu milyar orang tidur dengan perut lapar. di indonesia ada 65,34 juta orang rawan pangan, artinya hanya makan 1 atau 2 kali setiap hari. makanan menjadi menarik saat ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>manusia membutuhkan minimal 2.100 kalori dari makanan setiap hari untuk dapat bertahan hidup. total, jumlah pangan untuk mengisi perut penduduk bumi melebihi kebutuhan penduduknya, tetapi ada satu milyar orang tidur dengan perut lapar. di indonesia ada 65,34 juta orang rawan pangan, artinya hanya makan 1 atau 2 kali setiap hari.</p>
<p>makanan menjadi menarik saat ada uang di kantong dan menemukan tempat makan yang dapat memuaskan selera. tapi penguasaan pangan di tangan sekelompok kepentingan, akan berakhir dengan semakin banyak orang yang tidur dengan perut lapar.</p>
<p><em>cover story majalah respect. edisi 09/2011</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/10/05/rawan-pangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mangga memanggil pulang</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/09/27/mangga-memanggil-pulang/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/09/27/mangga-memanggil-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 01:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[the city]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=264</guid>
		<description><![CDATA[tahukah kau kawan, pohon mangga di belakang rumah kita sedang berbuah. tak banyak memang seperti pohon mangga tetangga kita yang karena begitu banyaknya sampai berguguran buahnya saat masih kecil-kecil. mungkin dua atau tiga minggu lagi beberapa buahnya akan matang dan bisa dinikmati. jadi kawan, yang jauh di sana, yang sedang menimba ilmu di pulau seberang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><a href="http://simpangtiga.lingkungan.org/wp-content/uploads/2011/09/DSC_5088.jpg"><img class="aligncenter size-large wp-image-268" title="mangga kita" src="http://simpangtiga.lingkungan.org/wp-content/uploads/2011/09/DSC_5088-1024x738.jpg" alt="" width="516" height="372" /></a></p>
<p style="text-align: left;">tahukah kau kawan, pohon mangga di belakang rumah kita sedang berbuah. tak banyak memang seperti pohon mangga tetangga kita yang karena begitu banyaknya sampai berguguran buahnya saat masih kecil-kecil. mungkin dua atau tiga minggu lagi beberapa buahnya akan matang dan bisa dinikmati. jadi kawan, yang jauh di sana, yang sedang menimba ilmu di pulau seberang atau bahkan di negeri orang, yang sedang membanting tulang mencari nafkah, atau hanya sekedar mengembara menempuh rimba mendaki gunung menikmati derasnya riam-riam sungai. kalian masih punya kesempatan untuk pulang, menikmati buah mangga yang sudah matang, walaupun tak banyak jumlahnya. buah yang telah kita tunggu sekian tahun, sejak pohon mangga itu hanya setinggi tubuh kita&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/09/27/mangga-memanggil-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>belajar pengelolaan kolaboratif (lagi)</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/25/belajar-pengelolaan-kolaboratif-lagi/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/25/belajar-pengelolaan-kolaboratif-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 May 2011 07:25:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[Louise E. Buck, Eva Wollenberg and David Edmunds. Pembelajaran Sosial Dalam Pengelolaan Kolaboratif Hutan Komunitas: Pelajaran Dari Lapangan dalam Pembelajaran Sosial Dalam Pengelolaan Hutan Komunitas, hal 4-5. Pustaka Latin. 2005 Mempelajari bagaimana mengelola hutan untuk memenuhi berbagai kepentingan – dari masyarakat lokal yang menyangkut mata pencaharian mereka hingga masyarakat yang jauh yang tertarik pada fungsi-fungsi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Louise E. Buck, Eva Wollenberg and David Edmunds. Pembelajaran Sosial  Dalam Pengelolaan Kolaboratif Hutan Komunitas: Pelajaran Dari Lapangan  dalam Pembelajaran Sosial Dalam Pengelolaan Hutan Komunitas, hal 4-5. Pustaka  Latin. 2005</p>
<p><em>Mempelajari bagaimana mengelola hutan untuk memenuhi berbagai kepentingan – dari masyarakat lokal yang menyangkut mata pencaharian mereka hingga masyarakat yang jauh yang tertarik pada fungsi-fungsi ekologis dan pendapatan – merupakan tantangan yang penting saat ini. Hutan merupakan properti yang sering dipersengketakan di mana kelompok-kelompok yang berbeda bertujuan untuk mengambil manfaat hutan dengan cara yang tidak sesuai atau berjuang menjadi pihak pertama yang mendapatkan manfaat dengan pasti. Untuk menyeimbangkan berbagai kepentingan ini, terdapat banyak upaya untuk mengembangkan strategi dan mekanisme yang mempromosikan kolaborasi di antara kelompok dengan perbedaan kepentingan dalam pengelolaan hutan (Anderson et al. 1999; Fox et al. 1997; Western 1994).</em></p>
<p><em><span id="more-247"></span>Namun pengelolaan hutan secara kolaboratif tidak mampu secara efektif membawa pengetahuan dan kapasitas kelompok yang berbeda tersebut. Koordinasi yang terjadi antara kelompok kepentingan lebih lemah daripada yang diharapkan. Bahkan, kelompok kepentingan menjadi sangat terikat dengan perspektif parsial mereka yang terbatas</em><em> dengan waktu (Saigal 1997, Kalyawongsa 1997). Kolaborasi yang didasarkan pada kesepakatan atau kontrak untuk satu waktu sering kehilangan relevansinya, karena adanya perubahan kondisi. Asumsi dan perspektif tentang aktor-aktor yang paling kuat sering berlaku. Kualitas dan polaritas statis dari kolaborasi seperti ini membawa pada keputusan yang tidak optimal dan cenderung mengabaikan potensi penyelesaian masalah yang kreatif dan hasil yang inovatif.</em></p>
<p><em>Pengelolaan kolaboratif bisa membaik jika kelompok kepentingan mencoba untuk terlibat dalam proses yang berkembang dan berkelanjutan untuk saling memahami pengetahuan, tujuan, kepenting an, kapasitas dan aksi masing-masing. Kolaborasi juga dapat ditingkatkan dengan menjamin bahwa tidak ada pandangan atau pengetahuan dari satu kelompok pun yang mendominasi proses ini.</em></p>
<p><em>Pembelajaran bersama mengakui bahwa kelompok kepentingan mem bawa pengetahuan yang berbeda (termasuk nilai-nilai, kapasitas, perspektif, metode pembelajaran, tempat pengalaman sejarah) pada proses kolaboratif tersebut. Pengetahuan dan pengalam an ini dapat menjadi aset bagi penyelesaian masalah jika dibagi, dan sebaliknya dapat menjadi kerugian jika diabaikan. Pembelajaran bersama atau sosial juga mendorong persepsi saling ketergantungan</em><em> dan saling menghargai. Dengan demikian, pembelajaran sosial bisa memfasilitasi kerja sama untuk mencapai tujuan yang disepakati, menimbulkan keyakinan dalam usaha-usaha kolaborasi berikutnya. Penekanan pada pembelajaran juga membantu stakeholder mengatasi dinamika sistem sosial dan lingkungan hidup.</em></p>
<p><em>Sebuah pertanyaan kunci untuk membuka potensi pengelolaan hutan oleh multistakeholder adalah: bagaimana harus mendorong pembelajaran bersama yang meningkatkan kolaborasi dalam pengelolaan hutan? Pada gilirannya, bagaimana kelembagaan dan kesepakatan kolaboratif dapat dirancang untuk meningkatkan pembelajaran bersama dalam pengelolaan hutan? Buku ini membahas pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengkaji ketergantungan</em><em> antara pembelajaran dan kolaborasi dalam situasi pengelolaan hutan yang sangat majemuk.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/25/belajar-pengelolaan-kolaboratif-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>berubah &#8211; beradaptasi</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/24/berubah-beradaptasi/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/24/berubah-beradaptasi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 May 2011 07:22:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=243</guid>
		<description><![CDATA[Masalah perubahan iklim di Indonesia biasanya dikaitkan dengan soal penggundulan hutan dan meningkatnya emisi gas rumah kaca kita. Orang Indonesia jarang mendengar sisi lainnya – dampak perubahan iklim global terhadap Indonesia. Kita sudah selalu berhadapan dengan berbagai bencana alam – kemarau panjang, banjir, gempa bumi, tsunami – tetapi kini sebagai akibat dari perubahan iklim, kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Masalah perubahan iklim di Indonesia biasanya dikaitkan dengan soal penggundulan hutan dan meningkatnya emisi gas rumah kaca kita. Orang Indonesia jarang mendengar sisi lainnya – dampak perubahan iklim global terhadap Indonesia. Kita sudah selalu berhadapan dengan berbagai bencana alam – kemarau panjang, banjir, gempa bumi, tsunami – tetapi kini sebagai akibat dari perubahan iklim, kita akan berhadapan dengan cuaca yang makin tidak menentu dan makin ekstrem, dengan berbagai akibat buruknya, terutama yang dapat menimpa masyarakat kita yang paling miskin. </em></p>
<p>halaman 3, Sisi lain Perubahan Iklim: Mengapa Indonesia harus beradaptasi untuk melindungi rakyat miskinnya, undp &#8211; indonesia, 2007</p>
<p><em><span id="more-243"></span>Tetapi, orang Bangladesh tidak perlu menunggu beberapa puluh tahun untuk  mengintip masa depan yang berubah akibat laut yang naik. Dari sudut  pandang di Teluk Bengal, mereka sudah mengalami apa rasanya hidup di  dunia yang kelebihan penduduk dan diubah iklim. Mereka menyaksikan  permukaan air laut naik, salinitas menjangkiti akuifer pantai, banjir  sungai semakin merusak, dan topan mendera pantai dengan semakin  dahsyat—semua perubahan yang dikaitkan dengan gangguan iklim global.</em></p>
<p><em>&#8230;.</em></p>
<p><em>Seperti yang diketahui warga Munshiganj, kita tidak bisa mendebat laut,  yang akan datang ke tanah ini cepat atau lambat. Namun, jutaan orang  Bangladesh akan beradaptasi hingga akhir yang pahit, lalu saat situasi  menjadi mustahil dihadapi, beradaptasi sedikit lagi. Ini soal mentalitas  bangsa—naluri gigih untuk bertahan hidup, berpadu dengan kemauan  menanggung kondisi yang mungkin tak mau dihadapi orang lain.</em></p>
<p>badai pasti menjelang, national geographic indonesia, edisi mei 2011</p>
<p><em>Akhirnya cara terbaik untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah beralih ke bentuk-bentuk pembangunan yang lebih berkelanjutan – belajar untuk hidup dengan cara-cara yang menghargai dan serasi dengan alam. Perubahan iklim merupakan ancaman yang serius – suatu peringatan untuk menyadarkan kita. Namun, kita juga dapat menggunakan kesempatan ini sebagai momentum baru bagi upaya-upaya perlindungan lingkungan hidup kita. Di Indonesia kita beruntung memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah dan Indonesia merupakan wilayah yang memiliki keanekargaman hayati yang paling kaya dan paling beragam di dunia. Semua itu sudah sepantasnya kita lestarikan – suatu warisan untuk generasi penerus. Namun, ada juga suatu kepentingan tersendiri yang kuat. Sejauh mana keharusan kita menyelamatkan lingkungan, sedemikian pula kita bergantung pada lingkungan untuk menyelamatkan kita.</em></p>
<p><em>Dari perspektif ini, mitigasi dan adaptasi mulai bertemu – menanami kembali hutan-hutan kita, misalnya, bukan saja akan meningkatkan penyerapan gas-gas rumah kaca, tetapi juga akan melindungi rakyat dari bencana langsung longsor. Menurunkan konsumsi bahan bakar di perkotaan tidak saja akan mengurangi emisi karbon dioksida, tetapi juga akan memperbaiki kesehatan penduduk kota dan meringankan beban rakyat, terutama yang masih anak-anak dan lansia dalam bertahan pada kondisi cuaca yang ekstrem. Perubahan pelaksanaan-pelaksanaan tersebut akan dapat dibenarkan dalam situasi seperti apa pun, tetapi kebutuhan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim menjadikannya sebagai sesuatu yang lebih mendesak.</em></p>
<p><em>Sekali lagi kita akan memetik banyak manfaat dengan membangun berdasarkan kearifan tradisional. Banyak masyarakat di Indonesia memang sudah selalu hidup serasi dengan alam, dan bahkan seolah menjadi bagian dari alam. Di berbagai wilayah negeri ini rumah-rumah penduduk tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan – tampak merupakan bagian dari hutan tersendiri. Kita juga selayaknya mengingat dengan bijak bahwa mulai dari pedesaan paling terpencil hingga ke perkotaan yang paling modern, kita semua adalah bagian dari alam – dan bahwa semua keunggulan teknologi kita selalu rentan oleh kekuatan alam yang dasyat.</em></p>
<p><em>Ketika iklim berubah, selayaknya kita pun berubah – dan berubah dengan segera.</em></p>
<p>halaman 18, Sisi lain Perubahan Iklim: Mengapa Indonesia harus  beradaptasi untuk melindungi rakyat miskinnya, undp &#8211; indonesia, 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/24/berubah-beradaptasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kota kecil nyaman huni</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/20/kota-kecil-nyaman-huni/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/20/kota-kecil-nyaman-huni/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 12:32:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Share]]></category>
		<category><![CDATA[the city]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=234</guid>
		<description><![CDATA[siapa tokoh arsitektur tempo tahun 2010, dalam beritanya tanggal 3 januari 2011, tim juri tempo memutuskan tokoh arsitektur tersebut bukan seorang individu atau kelompok masyarakat dengan mahakaryanya yang mumpuni ataupun unik tapi kepada kota-kota kecil nyaman huni di indonesia. disebutkan ada 8 kota yang akhirnya terpilih. kenapa juri memutuskan memilih kota-kota kecil tersebut, berikut segelintir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>siapa tokoh arsitektur tempo tahun 2010, dalam beritanya tanggal 3 januari 2011, tim juri tempo memutuskan tokoh arsitektur tersebut bukan seorang individu atau kelompok masyarakat dengan mahakaryanya yang mumpuni ataupun unik tapi kepada kota-kota kecil nyaman huni di indonesia. disebutkan ada 8 kota yang akhirnya terpilih. kenapa juri memutuskan memilih kota-kota kecil tersebut, berikut segelintir alasannya:<span id="more-234"></span></p>
<p><em>Bermula dari makin bertumpuknya persoalan di Ibu Kota Jakarta.  Sepanjang 2010, praktis tak ada kabar baik tentang Jakarta. Kemacetan  semakin kronis, yang pada akhirnya membuat pemerintah pusat mengambil  alih upaya mengatasinya. Wakil Presiden Boediono pun membentuk tim  khusus.</em></p>
<p><em>Banjir. Cerita lama yang makin membebat Jakarta karena dampaknya  yang makin kompleks-ditambah faktor perubahan iklim yang mengacaukan  musim. Banjir juga mengakibatkan kemacetan kian tak terurai. Orang marah  dan frustrasi karena harus menghabiskan waktu dan energi di jalan.</em></p>
<p><em>Jakarta seperti masalah yang tanpa penyelesaian. Hingga muncul  wacana pemindahan ibu kota ke luar Jakarta. Berbagai ahli mengajukan  usul. Bahkan seminar dan diskusi berlangsung dalam berbagai tataran:  lokal hingga nasional.</em></p>
<p><em>Yang lebih parah, ibu kota negara seluas 740,28 kilometer  persegi, dengan jumlah penduduk sekitar 9,5 juta jiwa, serta intensitas  kepadatan 14.464 per kilometer persegi itu berjalan tanpa arah. Rencana  Tata Ruang dan Wilayah 2010-2030 hingga akhir 2010 masih berupa draf,  belum disetujui sebagai produk hukum yang mengikat.</em></p>
<p><em>Daripada terus menggerutu dan mengkritik, toh Jakarta tidak juga  berubah menjadi baik, lebih baik mencari alternatif. Inilah yang menjadi  bahan diskusi kami dengan tim juri pemilihan Tokoh Arsitektur Tempo  2010, yaitu arsitek pengurus Ikatan Arsitek Indonesia, Bambang  Eryudhawan; ahli lanskap dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga; dan  arsitek yang seniman, Yori Antar. Akhirnya, kami sepakat mengusung tema  &#8220;Kota kota Kecil Nyaman Huni&#8221;</em>. [<a href="http://ip52-214.cbn.net.id/id/arsip/2011/01/03/LK/mbm.20110103.LK135522.id.html" target="_blank">tempo</a>]</p>
<p>alasan lainnya yang mereka sampaikan terkait dengan penilaian, yaitu pertama, terkait dengan hari tata ruang kota sedunia yang mengangkat tema besar smart green city planning (perencanaan kota hijau yang cerdas). kedua, mereka mempertimbangkan kehadiran korupsi, dalam hal ini kota bersih dalam arti bersih dalam penyelenggaraan pemerintahan, bersih kotanya, dan roda perekonomiannya berjalan. terakhir, ketiga, terkait dengan kota yang nyaman huni, dimana dikatakan bahwa tata kota dunia sedang berfokus pada kota kota kecil nyaman huni, karena  selain lebih ditata secara manusiawi dan demokratis, bisa menjadi  alternatif orang untuk tinggal dan hidup sejahtera.</p>
<p>nah&#8230; singkat kata terpilihlah 8 kota di indonesia, 2 diantaranya adalah kota-kota di kalimantan timur, yaitu tarakan dan balikpapan. jadi untuk warga samarinda yang sering mengomel bahkan mengumpat dalam hati, mulailah berpikir untuk memilih tinggal di dua kota tersebut, anda pasti merasa nyaman tinggal di sana dan tentu lebih merasa diperlakukan secara manusiawi. teringat slogan kota pulau kecil itu, tarakan kota mantap (nyaman, tertip, aman dan permai).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/20/kota-kecil-nyaman-huni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>cerita pengantar tidur 1: tentang dataran tinggi krayan</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/18/cerita-pengantar-tidur-1-tentang-beras-adan-putih-merah-dan-hitam/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/18/cerita-pengantar-tidur-1-tentang-beras-adan-putih-merah-dan-hitam/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 May 2011 01:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=220</guid>
		<description><![CDATA[anakku, di suatu tempat di pulau yang besar ini terhampar sawah di dataran tinggi yang menghasilkan beras dengan kualitas terbaik. sawah yang dikelola tanpa menggunakan pupuk kimia sehingga menghasilkan beras organik yang menyehatkan. sawah-sawah yang dibajak secara tradisional dengan menggunakan kerbau-kerbau dan telah dijalankan selama ratusan bahkan ribuan tahun. anakku, suatu saat kau harus mendatangi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>anakku, di suatu tempat di pulau yang besar ini terhampar sawah di dataran tinggi yang menghasilkan beras dengan kualitas terbaik. sawah yang dikelola tanpa menggunakan pupuk kimia sehingga menghasilkan beras organik yang menyehatkan. sawah-sawah yang dibajak secara tradisional dengan menggunakan kerbau-kerbau dan telah dijalankan selama ratusan bahkan ribuan tahun.</p>
<p>anakku, suatu saat kau harus mendatangi tempat itu, tak mudah memang untuk mencapainya, tapi kau pasti tak menyesal bila telah tiba di sana, di tempat dimana beras-beras itu berasal, tempat sawah-sawah tersebut terhampar. barisan pegunungan yang membatasinya, pasti akan memancing keinginanmu untuk menjelajahinya. Ingatlah, dataran tinggi krayan namanya.</p>
<p>anakku, tahukah kau tentang suku lundayeh, mereka adalah masyarakat asli yang bermukim di dataran tinggi tersebut. sejarah panjang tentang mereka dapat kau lihat dari batu-batu berukir dan adat-budaya yang masih terjaga hingga kini. bergaul dan tinggalah bersama mereka, maka akan kau rasakan persaudaraan dan keramahtamahan mereka.</p>
<p>anakku, jangan lupa untuk nikmati beras adan mereka, beras adan putih, merah dan hitam. salah satu beras berkualitas terbaik yang harus kita nikmati. beras organik yang bermutu dan bergizi tinggi. nikmatilah selagi hangat dengan lauk sederhana di tengah udara dingin dataran tinggi. sambil menikmatinya pandanglah barisan pegunungan dari jendela rumah mereka, sebuah kenikmatan lain akan kau rasakan.</p>
<p>anakku, mimpilah yang indah, suatu saat kau akan mengunjungi dataran tinggi itu, merasakan keramahtamahan mereka dan menikmati kelezatan beras adannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/18/cerita-pengantar-tidur-1-tentang-beras-adan-putih-merah-dan-hitam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>apa kabar tarakan&#8230;</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/15/apa-kabar-tarakan/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/15/apa-kabar-tarakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 May 2011 02:37:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[the city]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=216</guid>
		<description><![CDATA[lama aku tak pulang mengunjungi simpangan pusat kotamu]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>lama aku tak pulang mengunjungi simpangan pusat kotamu</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/05/15/apa-kabar-tarakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>barang super</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/02/17/barang-super/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/02/17/barang-super/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 14:49:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu aku menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke Balikpapan, seperti biasa bus melewati hutan Bukit Soeharto yang dikiri-kanan jalan dipenuhi oleh pohon cepat tumbuh, seperti sengon dan akasia. Di sela-selanya ada sungkai dan beberapa jenis lokal. Dibeberapa lokasi di luar hutan wisata Bukit Soeharto juga terdapat gerombolan sengon, yang katanya milik masyarakat, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu aku menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke Balikpapan, seperti biasa bus melewati hutan Bukit Soeharto yang dikiri-kanan jalan dipenuhi oleh pohon cepat tumbuh, seperti sengon dan akasia. Di sela-selanya ada sungkai dan beberapa jenis lokal.</p>
<p>Dibeberapa lokasi di luar hutan wisata Bukit Soeharto juga terdapat gerombolan sengon, yang katanya milik masyarakat, di sekitar tanaman lada masyarakat. Kalau dilihat dari ukurannya sengon-sengon tersebut sudah layak untuk ditebang, bahkan kalau kita tanyakan kapan panen pada penanamnya, pemanenan seharusnya sudah dilakukan beberapa tahun yang lalu. Lalu kenapa tidak dipanen? Bukankah tujuan menanam sengon itu dipanen kayunya lalu dijual. Kalangan rimbawan tentu tahu benar jawabannya, penanamnya juga.<span id="more-208"></span></p>
<p>Kompleksnya permasalahan di seputar sengonisasi yang telah terjadi mungkin akan terulang lagi, karena baru-baru ini ada barang super yang direkomendasikan untuk “mengamankan” dana reboisasi yang jumlahnya lumayan (katanya 198 M). Yang jadi pertanyaan adalah apakah barang super ini digunakan untuk membela kebenaran atau malah dimanfaatkan oleh penjahat untuk membobol “bank” dr dan ipk. Hebatnya lagi barang super ini telah membuat pusing banyak pihak, karena adanya pro-kontra kehadirannya di nagari kaltim ini. Di satu sisi (entah sisi baik atau jahat) barang ini ditentang habis-habisan, ditakutkan barang ini bisa menimbulkan radiasi yang dapat meracuni dan memusnahkan hutan kaltim. Yang juga ditakutkan adalah barang ini sangat cepat berkembangbiak dan membesar, berarti sangat berbahaya bagi ekosistem. Dan juga sudah tersebar informasi bahwa tenaga supernya tidak akan bertahan lama, setelah itu barang ini menjadi biasa-biasa saja bahkan gampang disusupi alien yang bernama hama, juga mempunyai sifat yang lebih buruk bila dibandingkan saudaranya yang telah lebih dulu ada yang berkembang biak di tanah jawa. Tapi di sisi lain (nggak tau juga, baik atau buruk) barang ini dipromosikan besar-besaran, bahkan sudah sampai ke penguasa negeri kaltim ini, dan <em>sangking </em>tertariknya sampai tergopoh-gopoh dan ingin buru-buru (sepertinya tak ingin didahului penguasa lain) merekomendasikan barang super ini untuk dikembangbiakkan secepatnya. Dan katanya, semua itu dilakukan untuk mensejahterakan rakyatnya, dan juga untuk menyelamatkan tanah-tanahnya.</p>
<p>Mungkin ini salah satu kekuatan super barang ini, hingga membuat pusing banyak orang. Yang sangat ditakuti oleh pihak yang kontra, bila barang ini jatuh ke tangan penjahat dan digunakan untuk mendapatkan barang super lainnya (uang). Kalau itu yang terjadi, <em>wah</em> bisa celaka bangsa kaltim ini, bukannya tambah sejahtera tapi mungkin malah tambah menderita. Yang kaya malah orang-orang mempromosikan dan menyalurkan barang super ini.</p>
<p>Entah mengapa penguasa negeri ini berpikiran untuk mengembangbiakkan barang ini dengan uang dr, tak tahu apakah otaknya sudah dicuci oleh monster konfori, hingga ia berpikiran barang ini sangat berguna. Semoga wabah sengonisasi yang menyengsarakan rakyat tidak terulang lagi. Entah mengapa semua ini terjadi, entah mengapa juga aku cape-cape memikirkan hal ini. Dan Entah mengapa bus tiba-tiba berhenti sebelum sampai ke tujuan. Ketika kutanyakan, katanya ada pohon sengon yang roboh dan batangnya melintang di badan jalan. Baaaahhh……..</p>
<p><em>Samarinda, 1 Juli 2001</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/02/17/barang-super/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>belum selesai&#8230;</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/02/17/belum-selesai/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/02/17/belum-selesai/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Feb 2011 14:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
				<category><![CDATA[Books]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Aku tinggal di desa Pohon Kayu yang terletak puluhan kilometer dari sebuah kota kecil, Batu Kali, yang juga merupakan pusat dari kecamatan yang bernama sama dengan kota kecil tersebut. Untuk mencapai desaku dari Batu Kali, ada angkutan pedesaan yang berupa mobil pick up yang telah ditambah tempat duduk kayu pada bagian baknya. Tempat duduk ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku tinggal di desa Pohon Kayu yang terletak puluhan kilometer dari sebuah kota kecil, Batu Kali, yang juga merupakan pusat dari kecamatan yang bernama sama dengan kota kecil tersebut. Untuk mencapai desaku dari Batu Kali, ada angkutan pedesaan yang berupa mobil pick up yang telah ditambah tempat duduk kayu pada bagian baknya. Tempat duduk ini disusun berjajar pada sisi kiri dan kanannya, dimana penumpangnya akan duduk saling berhadapan. Tapi aku dan teman-temanku biasanya tidak akan duduk di bangku-bangku tersebut, kami lebih senang duduk atau berdiri di sisi bagian belakang bak mobil yang telah ditambahkan sebuah besi bulat yang cukup besar yang biasanya digunakan sebagai pijakan bagi penumpang yang ingin naik. Kami akan berteriak nyaring bila mobil terhempas setelah melewati badan jalan yang semenjak dulu tak pernah bagus-bagusnya. Jalan menuju desa kami merupakan jalan tanah yang mengeras dengan sendirinya akibat seringnya dilewati mobil sejak puluhan tahun lalu, jalan tersebut merupakan satu-satunya jalan penghubung desa kami dengan Batu Kali yang dapat dilalui mobil.<span id="more-204"></span></p>
<p>Terdapat banyak lubang di sepanjang badan jalan, dan apabila hujan turun lubang-lubang tersebut akan menampung air, dan badan jalan jadi agak susah dilewati mobil, akibatnya supir angkutan enggan membawa penumpang dari dan menuju desa kami. Di samping angkutan pedesaan, untuk menuju desa kami juga dapat menggunakan ojeg, mereka biasanya mangkal di simpangan jalan menuju desa kami, motor yang digunakan pengojeg bermacam-macam, tapi umumnya mereka menggunakan motor laki karena kondisi jalan dan jarak yang ditempuh cukup jauh. Namun tidak banyak orang yang menggunakannya, karena selain ongkosnya yang mahal, ojeg tidak dapat digunakan untuk mengangkut hasil pertanian dalam juga besar, untuk diperjualbelikan di pasar. Setelah terguncang-guncang selama hampir satu jam, akan tampak ladang-ladang yang ditanami padi sebagai tanaman utama ditambah singkong, jagung dan beberapa tanaman sayuran lain, pertanda desa kami sudah dekat, ladang-ladang tersebut merupakan lahan pertanian tadah hujan, dan biasanya orang-orang mulai menanam padi di akhir musim kemarau, sehingga saat hujan mulai turun seluruh ladang telah ditanami dan kebutuhan air bagi ladang akan terpenuhi dengan sendirinya. Sebagian orang biasanya akan menanam singkong atau sayuran sebagai tanaman sampingan untuk kebutuhan sehari-hari, beras yang dimasak merupakan hasil panen sebelumnya, juga untuk benih padi yang akan ditanam pada musim tanam berikutnya. Ladang-ladang berbatasan langsung dengan kebun buah dan rotan, kebun tersebut terlihat seperti tidak terawat, apalagi bila sedang tidak musim buah dan harga rotan di pasar sedang jatuh-jatuhnya. Binatang-binatang liar sering terlihat di daerah tersebut, bahkan terkadang terlihat juga di ladang-ladang penduduk. Babi adalah binatang yang paling sering masuk ke ladang, apalagi bila ladang tersebut tidak dipagari atau bila pagar yang dibuat tidak begitu kuat. Singkong yang ditanam penduduk menjadi incaran utama mereka, umumnya mereka menyerang malam hari, dan pagi harinya akan terlihat bekas-bekas mereka pada tanaman singkong yang telah rusak. Pemilik ladang yang diserang biasanya akan marah-marah dan bahkan sering memaki-maki, entah siapa yang dimakinya, karena saat mereka datang ke ladang, babi-babi telah pergi untuk bersembunyi. Selain babi, monyet adalah salah satu musuh pemilik ladang, namun mereka sangat jarang menyerang, apalagi bila bahan makanan mereka masih mudah ditemui di hutan. Batas antara kebun buah dengan kawasan hutan tidak jelas, apalagi bila kebun buah tersebut tidak dirawat, namun bila kita telah terbiasa masuk ke kawasan tersebut, akan terlihat jelas bedanya, perubahan jenis pohon akan terlihat bila kita mulai memasuki batas antara kebun buah dan hutan, pohon-pohon buah sudah sangat jarang ditemui, tetapi pohon-pohon ukuran besar dan buahnya tidak dimakan akan sangat mudah ditemui. Semakin kita masuk kedalam kawasan hutan, akan sangat banyak kita temui pohon-pohon ukuran raksasa, dan hanya sedikit pohon buah yang kita temui, itupun merupakan pohon buah hutan. Sangat banyak binatang yang bisa kita temukan di sana,..</p>
<p><em>tulisan lama di tahun 2001 yang sepertinya tak akan bisa aku selesaikan&#8230; hiks</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2011/02/17/belum-selesai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

