<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>simpang tiga</title>
	<atom:link href="http://simpangtiga.lingkungan.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://simpangtiga.lingkungan.org</link>
	<description>tak ada lagi pasar, tak ada lagi strat buntu, tak ada lagi simpang tiga</description>
	<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 05:02:20 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>sampah</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/29/sampah/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/29/sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 05:02:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[hari sabtu kemarin berkesempatan mengajak monster-monster kecil di rumah mengunjungi hutan mangrove tarakan. mereka terlihat senang begitu memasuki kawasan hutan mangrove, melihat burung dan satwa lainnya, membaca papan informasi, juga papan nama jenis pohon. tak lama kami temukan satu sampah plastik, lalu kami ambil dan masukkan ke tempat sampah. tak jauh berjalan bertemu lagi botol [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hari sabtu kemarin berkesempatan mengajak monster-monster kecil di rumah mengunjungi hutan mangrove tarakan. mereka terlihat senang begitu memasuki kawasan hutan mangrove, melihat burung dan satwa lainnya, membaca papan informasi, juga papan nama jenis pohon. tak lama kami temukan satu sampah plastik, lalu kami ambil dan masukkan ke tempat sampah. tak jauh berjalan bertemu lagi botol kemasan minuman, diambil dan masukkan lagi ke tempat sampah. kemudian berjalan lagi dan bertemu sampah lagi, bersama anak-anak kami hitung total ada 20 sampah plastik di sepanjang perjalanan kami. padahal cukup banyak tempat sampah disediakan oleh pengelola, hampir di setiap sudut dan persimpangan jalan terdapat tempat sampah. sepertinya susah sekali memegang sebentar kemasan plastik bungkus makanan sebelum dibuang ke tempatnya. anak-anak sempat bertanya padaku, mengapa orang-orang membuang sampah sembarangan padahal ada tempat yang telah disediakan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/29/sampah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>gajah</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/20/gajah/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/20/gajah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 00:59:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[hari ini aku akan ke sebuku, mendampingi kawan-kawan dari kantor pusat. kami berencana mengunjungi beberapa desa di kecamatan tersebut yang dalam beberapa waktu ini terus didatangi oleh gajah, kalau hanya datang sih tidak jadi masalah, tapi si gajah rupanya lapar dan kebun masyarakat menyediakan makanan mereka. beruntung hingga saat ini belum ada korban jiwa seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hari ini aku akan ke sebuku, mendampingi kawan-kawan dari kantor pusat. kami berencana mengunjungi beberapa desa di kecamatan tersebut yang dalam beberapa waktu ini terus didatangi oleh gajah, kalau hanya datang sih tidak jadi masalah, tapi si gajah rupanya lapar dan kebun masyarakat menyediakan makanan mereka. beruntung hingga saat ini belum ada korban jiwa seperti di sumatera. untuk mengantisipasi itulah kami datang ke sebuku. konflik antara masyarakat dan gajah saat ini sudah saat meresahkan masyarakat, sehingga dibentuklah satgas penghalau gajah di masing-masing desa, mereka dibekali pelatihan dan peralatan. peralatannya sederhana sehingga mereka bisa membuatnya sendiri, namanya meriam karbit. masyarakat, pemerintah desa, kecamatan, kabupaten juga propinsi antusias sekali terhadap upaya mengatasi permasalahan ini. di tinggkat propinsi dibentuklah forum gajah kalimantan yang terdiri dari berbagai stakeholder baik dari pemerintah propinsi, kabupaten, kecamatan, lembaga pemerintah untuk konservasi sumberdaya alam, lsm, akademisi dan lain-lain. pemerintah kabupaten bekerjasama dengan universitas negeri terbesar di propinsi ini pun akan segera melakukan beberapa penelitian, mulai dari populasi hingga pakannya. sebelumnya telah dilakukan penelitian tentang habitat dan perkiraan populasinya.  berbagai diskusi juga telah dilakukan dengan pengusaha perkebunan dan perkayuan yang telah mendapatkan ijin mengelola kawasan. yang terpenting juga adalah bagaimana memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam berusaha dan menjalani kehidupan sehari-hari juga rasa aman bagi gajah guna keberlangsungan hidupnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/20/gajah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>membuat taman</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/20/membuat-taman/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/20/membuat-taman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jun 2008 00:20:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[kemarin, kantor kami membuat taman di depan kantor, mulai pagi hingga tengah hari, akhirnya taman itu pun dipenuhi berbagai macam tanaman. sekarang walaupun baru satu hari kantor jadi kelihatan lebih segar. kami juga menanam gaharu, mungkin suatu saat bisa &#8220;dipetik&#8221; hasilnya. beberapa tanaman hias dalam pot juga bisa ditemukan di beranda kantor. suatu saat bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>kemarin, kantor kami membuat taman di depan kantor, mulai pagi hingga tengah hari, akhirnya taman itu pun dipenuhi berbagai macam tanaman. sekarang walaupun baru satu hari kantor jadi kelihatan lebih segar. kami juga menanam gaharu, mungkin suatu saat bisa &#8220;dipetik&#8221; hasilnya. beberapa tanaman hias dalam pot juga bisa ditemukan di beranda kantor. suatu saat bila anda berkunjung ke kantor kami, anda bisa menikmatinya saat santai di depan kantor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/20/membuat-taman/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>sore di tepi sungai sesayap</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/08/sore-di-tepi-sungai-sesayap/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/08/sore-di-tepi-sungai-sesayap/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 06:14:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[sore kemaren kami habiskan di tepi sungai sesayap tepat di belakang kantor, ditemani jagung rebus dan segelas teh yang kami siapkan sendiri. memandang sungai sesayap dengan airnya yang keruh ditingkahi lalu lalang longboat dan ketinting. tampak beberapa lelaki berenang tak jauh dari tempat kami bersantai, sayang tak tampak anak-anak yang bermain di tepi sungai. tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sore kemaren kami habiskan di tepi sungai sesayap tepat di belakang kantor, ditemani jagung rebus dan segelas teh yang kami siapkan sendiri. memandang sungai sesayap dengan airnya yang keruh ditingkahi lalu lalang longboat dan ketinting. tampak beberapa lelaki berenang tak jauh dari tempat kami bersantai, sayang tak tampak anak-anak yang bermain di tepi sungai. tak terasa jagung rebus telah habis semua, gelas-gelas telah kosong, kami pun beranjak kembali ke kantor diiringi semilir angin yang berhembus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/08/sore-di-tepi-sungai-sesayap/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>yang lama tak didengar dan ditengok</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/02/yang-lama-tak-didengar-dan-ditengok/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/02/yang-lama-tak-didengar-dan-ditengok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 09:20:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[pagi ini di sela-sela deru sepeda motor kudengar lagi suaranya, ya&#8230; sudah cukup lama aku tak menengok satwa yang memiliki bulu dan suara yang indah. terkadang saat sedang bermain bulutangkis di depan kantor sore tanpa sengaja memandang burung elang yang sedang terbang melintas, juga saat mengajak berandalan kecil di rumah tarakan mengunjungi hutan mangrove tarakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>pagi ini di sela-sela deru sepeda motor kudengar lagi suaranya, ya&#8230; sudah cukup lama aku tak menengok satwa yang memiliki bulu dan suara yang indah. terkadang saat sedang bermain bulutangkis di depan kantor sore tanpa sengaja memandang burung elang yang sedang terbang melintas, juga saat mengajak berandalan kecil di rumah tarakan mengunjungi hutan mangrove tarakan sesekali terlihat burung raja udang di dahan-dahan bakau.</p>
<p>padahal untuk mengamati burung tak susah-susah amat, dengan mata telanjang bisa dilakukan. kalau pun tak punya kemampuan untuk mengidentifikasi jenis burung, cukuplah ditulis nama yang umum diketahui. kalau punya kemampuan untuk menggambar bisa digambarkan pada selembar kertas, karena ini akan sangat membantu dalam mengidentifikasi jenis burung yang dilihat. teropong, tak harus digunakan bila memang tak punya, walaupun akan sangat membantu dalam pengamatan burung. punya kamera digital pocket, bisa juga dipakai bila memang tak punya kamera tele yang biasa dipakai untuk memotret satwa liar.</p>
<p>lantas apalagi yang dibutuhkan, selain peralatan untuk mengamati burung, yang terpenting juga punya kemauan untuk melakukannya, disamping punya kesempatan (waktu) tentunya. nah ini lah yang aku tak punya, lagi malas nih&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/06/02/yang-lama-tak-didengar-dan-ditengok/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>bangkit</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/20/bangkit/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/20/bangkit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 May 2008 13:39:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Words]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[cobalah untuk bangkit, dari tidur panjang, dari mimpi indah, dari duduk di kursi empuk. cobalah untuk bangkit, hadapi kehidupan nyata, hadapi keterpurukan, hadapi semua masalah. cobalah untuk bangkit, untuk buktikan bahwa kita bisa, kita mampu, bahwa kita masih ada.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>cobalah untuk bangkit, dari tidur panjang, dari mimpi indah, dari duduk di kursi empuk. cobalah untuk bangkit, hadapi kehidupan nyata, hadapi keterpurukan, hadapi semua masalah. cobalah untuk bangkit, untuk buktikan bahwa kita bisa, kita mampu, bahwa kita masih ada.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/20/bangkit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>minyak di bawah dan di atas tanah</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/12/minyak-di-bawah-dan-di-atas-tanah/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/12/minyak-di-bawah-dan-di-atas-tanah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 May 2008 11:19:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/12/minyak-di-bawah-dan-di-atas-tanah/</guid>
		<description><![CDATA[sebenarnya ingin sekali menulis tentang harga bbm yang bakalan naik, tapi bingung mau nulis tentang apanya. juga pingin menulis tentang harga minyak goreng yang melambung tapi juga bingung apanya yang mau ditulis. padahal negara ini penghasil minyak (mentah) walaupun ternyata impornya jauh lebih besar. padahal negara ini penghasil cpo terbesar kedua sedunia setelah negara tetangga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>sebenarnya ingin sekali menulis tentang harga bbm yang bakalan naik, tapi bingung mau nulis tentang apanya. juga pingin menulis tentang harga minyak goreng yang melambung tapi juga bingung apanya yang mau ditulis. padahal negara ini penghasil minyak (mentah) walaupun ternyata impornya jauh lebih besar. padahal negara ini penghasil cpo terbesar kedua sedunia setelah negara tetangga dan katanya ekspor kita lebih besar dari negara tetangga tersebut. berarti negara tetangga tersebut lebih memperhatikan kebutuhan dalam negerinya dibandingkan negara kita, apakah benar begitu, aku tak tau. jadilah harga minyak goreng melambung tinggi karena negara lebih mengutamakan mendapatkan devisa yang lebih besar dari ekspor cpo. dan rakyatnya diminta untuk lebih hidup sehat, memasak dan makan makanan yang direbus bukan digoreng. kata teman-teman hutan kita akan semakin berkurang untuk menghasilkan bbm yang ramah lingkungan. ini membuatku tambah bingung, menghasilkan sesuatu yang baik untuk lingkungan tetapi juga menghancurkan lingkungan itu sendiri, tak tau aku bagaimana menjelaskannya bila ditanya. itu baru satu sisi belum lagi sisi yang lain. katanya pemerintah akan keluar dari perkumpulan negara-negara penghasil dan pengekspor minyak, dan aku tak mengerti dan juga bingung berarti negara ini sejak dulu merupakan penghasil dan pengekspor minyak tapi kok rakyatnya tak bisa semakmur negara-negara arab. negara ini punya minyak di bawah dan di atas tanahnya, tapi sebagian besar rakyatnya tak bisa merasakan manfaatnya, bingung aku.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/12/minyak-di-bawah-dan-di-atas-tanah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>sungai karang anyar</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/09/sungai-karang-anyar/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/09/sungai-karang-anyar/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 May 2008 13:06:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[the city]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/09/sungai-karang-anyar/</guid>
		<description><![CDATA[hujan kali ini membuatku membayangkan rumah tempat aku dibesarkan, sebuah rumah tak jauh dari simpang tiga. hujan selebat dan selama ini tentu akan mengakibatkan banjir, dan bila lebih lama lagi banjir akan masuk ke rumah. walaupun letak rumahku tak tepat betul dari sebuah sungai kecil, sungai yang biasa disebut sungai karang anyar, karena letaknya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hujan kali ini membuatku membayangkan rumah tempat aku dibesarkan, sebuah rumah tak jauh dari simpang tiga. hujan selebat dan selama ini tentu akan mengakibatkan banjir, dan bila lebih lama lagi banjir akan masuk ke rumah. walaupun letak rumahku tak tepat betul dari sebuah sungai kecil, sungai yang biasa disebut sungai karang anyar, karena letaknya di kelurahan karang anyar. anda mungkin kaget bila kondisinya normal, sungai itu dalamnya hanya semata kaki orang dewasa, tapi begitu banjir ia akan menjadi begitu dahsyat. ya, kawasan hutan di hulu sungai ini sudah rusak parah, dan banjir membawa lumpur dan pasir dari kawasan yang telah terbuka. bila saja pasir itu dikumpulkan, mungkin dengan banjir tahun ini saja sudah cukup untuk membangun sebuah rumah sederhana.</p>
<p>tapi itulah sungai karang anyar, dimana waktu kecil aku sering mendatanginya. dulu sebelum rumahku menggunakan jasa pdam untuk mendapatkan air bersih, kami menggunakannya untuk mandi dan mencuci. tapi dulu airnya tak sekotor dan sedangkal sekarang. aku juga sering mancing  di sungai karang anyar, dan dulu banyak ikan wadernya, tak tahu kalau sekarang. tapi dari dulu sungai karang anyar juga banjir, walau tak separah sekarang, dimana setelah hujan reda, kami sering bermain menghanyutkan tubuh kami di airnya yang dangkal.</p>
<p>di tepi sungai banyak pohon bambu, yang sering digunakan anak-anak untuk membuat leduman (meriam bambu) saat bulan puasa, membuat layang-layang saat musim layangan, atau oleh orang dewasa digunakan untuk menakuti kami (yang masih anak-anak) agar tak keluar malam. selain itu dulu di dekatnya banyak pohon buah-buahan yang pada musimnya menyediakan buah-buahan segar bagi kami.</p>
<p>tak jauh dari rumahku ada sebuah jembatan kayu yang melintasi sungai karang anyar, dari jembatan ini kami bermain kapal-kapalan yang ditarik dengan benang. di jembatan ini juga keponakanku pernah jatuh ketika melintas dengan sepedanya, entah kenapa, mungkin dia ditakut-takuti karena di dekat jembatan banyak pohon bambunya. untung saja jembatannya tak begitu tinggi dari permukaan sungai. sudah beberapa kali jembatan ini direnovasi, tapi selalu menggunakan kayu, tapi mungkin juga lebih baik begitu agar orang yang mengendarai sepeda motor tak ngebut ketika melewatinya. sampai sekarang jembatan ini masih punya pengaruh untuk menakuti anak-anak, hal yang sudah dilakukan oleh orang-orang dewasa dulu terhadap kami ketika masih kecil-kecil. yah, selain karena gelap pepohonan di sekitarnya memberi kesan angker padanya, tapi untung juga jadinya tak ada orang yang pacaran di jembatan.</p>
<p>sungai ini bermuara ke laut tak jauh dari hutan mangrove gusher, dulu sewaktu kecil aku pernah diajak kawan-kawan mancing di sana, selepas mancing kami biasa mencari buah dari pohon-pohon bakau yang berbentuk seperti pisang tapi ukurannya kecil sekali. buah ini kami gunakan untuk permainan ketek-ketekan. dengan menggunakan karet gelang buah itu diluncurkan untuk mengenakan musuh. rasanya bisa sakit sekali bila dibidikan dari jarak dekat dan terkena kulit yang terbuka. tapi dulu pohon mangrove lebih banyak dibandingkan sekarang yang lebih banyak rumahnya.</p>
<p>sekarang tak ada anak-anak yang mau bermain di sungai karang anyar, airnya yang kotor dan bau serta banyaknya sampah, tentu membuat mereka akan dimarahi bila main di sungai. walaupun sudah banyak yang sadar untuk tidak buang sampah ke sungai, tapi masih ada saja yang melakukannya, bahkan banyak rumah-rumah yang saluran pembuangan tinjanya yang mengarah langsung ke sungai. semoga nanti orang-orang di sekitar sungai akan sadar untuk tidak membuang sekala bentuk kotoran ke sungai, menjaga daerah tangkapan dan resapan air di sekitarnya, sehingga sungai karang anyar tak lagi jadi mimpi buruk di musim hujan begini.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/09/sungai-karang-anyar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>hardiknas</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/03/hardiknas/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/03/hardiknas/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 May 2008 06:27:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/03/hardiknas/</guid>
		<description><![CDATA[akeelah anderson, seorang anak berusia sebelas tahun memenangi kompetisi mengeja nasional di amerika, dalam satu kesempatan pembimbingnya menyampaikan tentang filosofi dari sebuah kata. bukan hanya menghafalkan huruf demi huruf, tapi maksud dari kata itu terbentuk dan pemahaman dari kata-kata yang ada. tidak hanya sekedar menghafalkan tapi juga memahami kata demi kata. ketika akeelah protes karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>akeelah anderson, seorang anak berusia sebelas tahun memenangi kompetisi mengeja nasional di amerika, dalam satu kesempatan pembimbingnya menyampaikan tentang filosofi dari sebuah kata. bukan hanya menghafalkan huruf demi huruf, tapi maksud dari kata itu terbentuk dan pemahaman dari kata-kata yang ada. tidak hanya sekedar menghafalkan tapi juga memahami kata demi kata. ketika akeelah protes karena hanya disuruh membaca sebuah esai, pembimbingnya menyampaikan dia tak sedang membuat sebuah robot yang menghafalkan kata-kata, tapi ia ingin menyampaikan bahwa kata-kata yang tersusun mempunyai maksud dan memiliki kekuatan untuk mempengaruhi banyak orang. kekuatan kata-katalah yang dipergunakan bapak bangsa, diantaranya soekarno dan hatta, dalam memperjuangkan kebebasan bangsa ini dari penjajahan. akeelah diminta untuk memahami makna dari kata-kata dengan begitu dia dengan mudah bisa menghafalkannya.</p>
<p>kisah tentang akeelah dapat anda saksikan dalam film berjudul akeelah and the bee. menghafal pelajaran sudah menjadi bagian lumrah dalam pendidikan kita, menghafal membuat kita memberikan jawaban yang sama persis susunan katanya seperti terdapat pada buku teks pelajaran saat ujian, tetapi ternyata menghafal membuat para pelajar menjadi takut tak lulus ujian tahun ini. ada kepala sekolah dan guru yang masuk penjara karena membocorkan soal ujian, ada calo soal dan jawaban ujian nasional yang berkeliaran mengeruk keuntungan dari anak bangsa ini, ada pelajar yang rela melakukan apa saja untuk menghadapi ujian nasional bahkan mati sekalipun. menghafal membuat kita lupa bahwa setiap mata pelajaran merupakan bagian dari hidup kita. apakah kita lupa bahwa bahasa indonesia adalah bahasa sehari-hari kita, sudah sering kita dengarkan orang berbicara melebih-lebihkan sesuatu dari kenyataannya tapi sayang kita tak tahu apa istilahnya, menghafal membuat kita lupa bahwa kita biasa menggunakan akronim, antonim, sinonim. kita juga lupa bahwa dalam gerak sehari-hari ada gaya fisika di dalamnya, kita pasti tahu berapa kecepatan yang dibutuhkan sepeda motor kita dari rumah sampai ke sekolah agar sampai tepat waktu. kita lupa bahwa bahwa di rumah kita telah terjadi reaksi kimia, ketika membuat teh, ketika ibu memasak, ketika merendam cucian dalam air sabun. kita lupa bahwa ketika bernafas kita tak hanya menghirup oksigen dari udara, sehingga kita membiarkan saja karbondioksida dan zat beracun lainnya memenuhi udara. kita juga lupa bahwa batang pohon berupa tabung, dimana kita bisa mengukur lingkarannya untuk mengetahui pertumbuhan batangnya setiap tahun sehingga kita tahu bahwa diperlukan waktu yang sangat lama agar sebatang pohon mencapai ukuran diameter batang sebesar satu meter yang membuat kita segan untuk menebang sesukanya. kita lupa bahwa ada proses pencucian karbondioksida yang dilakukan oleh sebuah pohon, dengan daun-daunnya kita bisa menghirup udara yang lebih segar.</p>
<p>seseorang pernah mengatakan belajarlah dari lingkungan sekitarmu, yang lain mengatakan tentang belajar untuk kehidupan yang kita jalani bukan karena ujian nasional. semoga dengan peringatan hari pendidikan nasional tahun ini, pendidikan anak bangsa bisa menjadi lebih baik. semoga nanti tak ada lagi sekolah yang rubuh, tak ada lagi anak-anak yang tak sekolah karena tak punya uang, tak ada lagi yang bunuh diri karena takut tak lulus ujian, semoga&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/03/hardiknas/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>may day</title>
		<link>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/01/may-day/</link>
		<comments>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/01/may-day/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 May 2008 12:25:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>argolog</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Share]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/01/may-day/</guid>
		<description><![CDATA[hari ini para pekerja di seluruh dunia memperingati hari mereka, kita biasa menyabutnya hari buruh. umumnya para pekerja memperingatinya dengan melakukan unjuk rasa. menyampaikan tuntutannya agar mendapatkan upah yang layak, yang biasanya tidak pernah dipenuhi oleh para pemilik modal.
setiap tahun memang biasanya ada kenaikan umr, dan setelah melalui perjuangan panjang umr yang ditentukan oleh pemerintah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hari ini para pekerja di seluruh dunia memperingati hari mereka, kita biasa menyabutnya hari buruh. umumnya para pekerja memperingatinya dengan melakukan unjuk rasa. menyampaikan tuntutannya agar mendapatkan upah yang layak, yang biasanya tidak pernah dipenuhi oleh para pemilik modal.</p>
<p>setiap tahun memang biasanya ada kenaikan umr, dan setelah melalui perjuangan panjang umr yang ditentukan oleh pemerintah biasanya masih di bawah kebutuhan biaya hidup keluarga yang juga terus naik setiap tahunnya. walaupun masing-masing sektor pekerjaan memeliki umr yang berbeda-beda sehingga sering disebut umr sektoral, umumnya para pekerja mengalami nasib yang sama, kebutuhan hidup yang terus meningkat, ketidakpastian perpanjangan kontrak kerja dan hak-hak pekerja yang dikebiri.</p>
<p>jadilah setiap tahun hari buruh diperingati tanpa ada perubahan, kalaupun ada yang berubah adalah kebutuhan biaya hidup yang terus meningkat tak sebanding dengan naiknya upah.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://simpangtiga.lingkungan.org/2008/05/01/may-day/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
