produk-produk malaysia itu

dikeluarkannya peraturan menteri perdagangan nomor 44 tahun 2008 tentang ketentuan impor produk tertentu, membuat gusar pemerintah, pengusaha dan masyarakat kota tarakan, bagaimana tidak produk-produk dari malaysia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat tarakan, adalah kemudahan untuk mendapatkan membuat produk-produk malaysia memenuhi toko-toko, terutama makanan dan minuman

keberadaan produk-produk malaysia itu di tarakan, menjadikannya semacam oleh-oleh yang selalu dicari bila ada yang datang berkunjung ke tarakan (kalau tak percaya tanya saja keluarga dan kawan-kawanku di balikpapan atau samarinda), hal ini tentu saja menguntungkan secara ekonomi bagi kota tarakan, tidak saja bagi pengusahanya tapi juga bagi masyarakat lainnya yang secara langsung maupun tidak, terlibat dalam perdagangan produk-produk tersebut

sesuai dengan peraturan menteri perdagangan pasal 5 ayat 1 bahwa setiap produk tertentu oleh importir terdaftar produk tertentu hanya dapat dilakukan melalui pelabuhan laut: belawan di medan, tanjung priok di jakarta, tanjung emas di semarang, tanjung perak di surabaya, dan soekarno-hatta di makassar; dan atau melalui pelabuhan udara internasional, bisa dibayangkan produk-produk malaysia yang dibeli di tawau (negara bagian sabah, tak jauh dari nunukan) harus ke makassar (pelabuhan terdekat sesuai peraturan) terlebih dahulu baru kemudian dibawa kembali ke tarakan, perjalanan yang hanya memakan waktu 2-3 jam menggunakan kapal cepat atau setengah hari menggunakan kapal barang dari tawau ke tarakan akan menjadi beberapa hari bila harus melalui makassar, belum lagi bila ada urusan tetek-bengek lainnya, tentu saja membuat produk-produk lebih mahal harganya dan menjadi sulit didapatkan

selama ini, telah berpuluh-puluh tahun lamanya, produk-produk tersebut secara tradisional (baik legal maupun illegal) masuk melalui pelabuhan-pelabuhan resmi dan tradisional di tarakan, proses ini tentu saja memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat yang terlibat, mulai dari pengusaha/pemilik toko, pemilik kapal, kuli angkut, tukang catut resmi maupun tidak, pengusaha bahan bakar, pekerja toko, warung-warung kecil dan lain sebagainya, apalagi harganya kerap lebih murah dibandingkan produk sejenis dari negara kita, dikuatirkan peraturan menteri perdagangan ini mengakibatkan produk dari malaysia tidak bisa masuk langsung dari tawau ke tarakan dan akibatnya harganya jauh lebih mahal, sehingga banyak pengusaha yang tidak mau lagi menjual produk malaysia tersebut, tidak masalah memang bila kemudian mereka beralih menjual produk indonesia, tapi bila kemudian memutuskan menutup usahanya, tentu akan banyak masyarakat tarakan yang akan kehilangan pekerjaan

mungkin rasa nasionalis anda akan tergugah, bagaimana bisa kota tarakan dan sekiatarnya menjadi begitu tergantung dengan produk negara lain, tapi jauh sebelum kita mengenal batas-batas negara, tarakan dan daerah sekitarnya telah melakukan proses perdagangan dengan daerah-daerah lain di sekitarnya termasuk malaysia, proses perdagangan yang masih terus dilakukan sampai sekarang, baik legal maupun illegal, dulu bahkan jauh lebih parah lagi, bawang putih dan gula dari malaysia memenuhi pasar dan toko di tarakan, yang kemudian dibawa lagi menuju daerah lainnya di indonesia, beruntung sekarang harganya jauh lebih tinggi, masih membekas dalam ingatan bagaimana kapal-kapal penumpang pelni yang berangkat dari tarakan akan selalu beraroma bawang putih di dek-dek ekonominya, bawang putih juga merupakan oleh-oleh yang sering kubawa untuk ibu kosku di samarinda di awal masa kuliah dulu

bagaimanapun pengusaha produk malaysia dan juragan kapal di tarakan dan sekitarnya adalah orang-orang yang berpengalaman dalam hal smokel (smuggle) sehingga bisa berkelit menghadapi petugas, bisa jadi peraturan menteri perdagangan tersebut menjadi tidak efektif, dan produk-produk malaysia tetap memenuhi pasar dan toko-toko di tarakan, jadi sebetulnya tidak ada perlu dikuatirkan (bingung???), kecuali bila memang kita menjadi bangsa yang sadar dan taat pada aturan yang dibuat

lepas dari semua permasalahan produk-produk malaysia di atas, bila berkesempatan berkunjung ke tarakan jangan lupa untuk menikmati hidangan makanan lautnya yang bisa didapatkan di berbagai tempat dan rumah makan (ini khas tarakan dan dari laut indonesia), tapi yang pasti jangan sampai terlupa untuk menikmati sate paling enak di tarakan, tempatnya di….

walaupun aku sebenarnya senang juga bila produk-produk malaysia tersebut tidak ada lagi atau susah di temukan di tarakan, jadinya tidak perlu membawa oleh-oleh jajanan produksi malaysia itu hehehehehhe

Posted under the city by argolog on Wednesday 26 November 2008 at 7:07 pm

krisis listrik itu datang juga

akhirnya pemadaman bergilir itu terjadi juga, dan untuk mengatasinya adalah dengan menaikan tarif dasar listrik, padahal tarif dasar listrik di kota pulau kecil ini sudah lebih tinggi dibanding daerah lainnya di indonesia

berdasarkan peraturan daerah kota tarakan nomor 3 tahun 2001 tentang tarif dasar listrik lokal kota tarakan yang kemudian mengalami perubahan pada perda nomo 13 tahun 2003, warga kota tarakan diharuskan membayar tarif dasar listrik yang lebih tinggi dibanding tarif dasar pln yang ditetapkan secara nasional, tarif dasar listrik yang ditetapkan untuk golongan tarif sosial biaya pemakaian 420-460 rupiah per kwh dengan biaya beban 17.000-32.500 rupiah per kva, rumah tangga biaya pemakaian 530-700 rupiah per kwh dengan biaya beban 12.00-34.260 rupiah per kva, komersial biaya pemakaian 575-590 rupiah per kwh dengan biaya beban 33.800-36.000 rupiah per kva, publik (kantor pemerintah dan penerangan jalan umum) biaya pemakaian 750 rupiah per kwh dengan biaya beban 25.000 rupiah per kva, dan multiguna biaya pemakaian 1.415 rupiah (maksimum) per kwh

dengan tarif lokal yang lebih tinggi dari tarif dasar listrik pln yang ditetapkan secara nasional, pemerintah kota tarakan dan pln menjamin bahwa pemadaman bergilir dan byar pet tidak akan terjadi, dengan kondisi pasokan listrik saat itu yang mencapai 31 mw dan beban puncak hanya 27 mw, tentunya jaminan tersebut bukan hanya omong kosong, di saat daerah lain mengalami pemadaman bergilir, kota ini boleh berbangga hati tidak akan mengalaminya

namun sayang, seiring berjalannya waktu, satu demi satu mesin penghasil listrik berguguran, sampai dengan tahun 2007, 7 dari 15 unit mesin pembangkit mangkrak dan hanya digunakan sebagai cadangan bila ada mesin pembangkit yang saat ini digunakan “sakit”, untuk menghidupkan 7 mesin itu pln membutuhkan subsidi paling tidak sebesar 11,5 miliar rupiah untuk membeli sekitar 1,6 juta liter solar yang bisa dipakai mengatasi pemadaman bergilir hingga juni 2009, entah ada salah perhitungan dimana sehingga pln kota tarakan tidak mampu memenuhi kebutuhan bakar mesin pembangkit listriknya

akhirnya mengemukalah usulan untuk menaikan tarif dasar listrik lokal tarakan, usulan yang kemudian membuat masyarakatnya meradang, entah karena pemadaman listrik yang dialami atau karena besarnya biaya yang telah dikeluarkan untuk membayar pemakaian listrik tiap bulannya, tidak hanya pemerintah kota dan pln yang disorot tapi juga lembaga legislatif yang telah menyetujui kenaikan tarif disamping merupakan wakil rakyat penyambung aspirasi masyarakat kepada pemerintah kota

menjawab tuntutan masyarakat itu dprd tarakan pun bergerak, membentuk pansus kelistrikan, melakukan pertemuan dengan pihak pln dan pemerintah kota, dan menyusun rencana kajian tidak hanya terhadap persoalan teknis kelistrikan, tapi juga masalah keuangan dan juga perda nomor 13 tahun 2003

apakah permasalahan listrik ini akan terus berkepanjangan seperti yang terjadi di samarinda, balikpapan dan tenggarong atau akan berhasil diatasi, masih belum diketahui hasilnya, sementara itu banyak warga kota yang terus mengalami kerugian seiring berlakunya pemadaman bergilir

lebih lengkap baca skh radar tarakan 18 nov, 19 nov dan 20 nov

sembari menikmati gelapnya kota tarakan di waktu dan tempat tertentu jangan lupa mampir ke warung sate paling enak di kota tarakan, tempatnya….

Posted under the city by argolog on Thursday 20 November 2008 at 5:31 pm

jembatan itu

jembatan itu kini direnovasi, kali ini bukan lagi jembatan kayu, beton-beton pemancang sudah terpasang, tak lama lagi jembatan itu selesai sudah, menjadi jembatan beton bertulang besi, tak akan lagi bunyi gemeretak kayunya saat dilewati kendaraan bermotor, tak bisa lagi mengintip aliran air disela-sela papan yang dipasang jarang, mungkin nanti ia bukan lagi jembatan yang menakutkan anak-anak di malam hari, yang akan berlari setiap melewatinya, mungkin nanti kendaraan bermotor tak lagi mengurangi kecepatannya saat melintasi jembatan, yah semua telah dan akan berubah, tak mungkin berharap selalu seperti dulu, tak ada pembangunan namanya kata temanku.

Posted under the city by argolog on Sunday 24 August 2008 at 8:53 pm

kepiting

hutan bakau itu menjadi tempat persembunyiannya. kota pulau ini terletak tepat di delta sungai kayan dengan kawasan hutan bakau yang sangat luas. entah yang sudah rusak atau yang belum berubah sama sekali. dan kawasan hutan bakau itu, juga yang terdapat di kota pulau, menjadi tempat hidup bagi makhluk bercapit yang dagingnya terasa lezat sekali, paling tidak bagiku.

dan di kota pulau ini, dunia kuliner mengenalnya sebagai surganya masakan kepiting. ada tiga rumah makan yang sangat dikenal, paling tidak bagi kami, menyajikan masakan berbahan kepiting. kepiting saos super tarakan, b21 dan bais cafe. mungkin masih ada rumah makan yang lain tapi rumah makan tersebutlah tempat kami biasanya menyantap kepiting.

buatku, masih ada satu tempat lagi dimana aku bisa menikmati kelezatan masakan kepiting, di rumahku sendiri di kota pulau ini, kepiting masak kecap biasa dihidangkan oleh ibu atau kakakku. dan biasanya yang dimasak adalah kepiting berukuran besar yang jarang kudapatkan di rumah makan. kepiting bakau, kami biasa menyebutnya. ditambah makan tanpa malu-malu di rumah sendiri yang tak dibatasi waktu, menambah kenikmatan menyantap kepiting.

jadi jangan lupa, menikmati masakan kepiting di kota pulau ini saat anda berkesempatan berkunjung atau hanya sekedar mampir.

Posted under the city by argolog on Sunday 17 August 2008 at 1:53 pm

krisis listrik

kota ini terus berubah, bangunan-bangunan baru berukuran besar terus bermunculan. sekedar rumah tinggal, ruko, mini market, pusat pertokoan, mall dan hotel bagai jamur dimusim hujan. beberapa bagian yang pernah aku datangi dulu bahkan kini menjadi asing dan menyesatkanku. di saat malam lampu-lampu menerangi seluruh pelosok kota, terutama di simpang tiga (sekarang simpang empat). malam pun seperti menjadi lebih panjang dibandingkan dulu. kebutuhan akan pasokan listrikpun semakin meningkat. beberapa tahun lalu saat kota-kota lain di propinsi ini mengalami krisis listrik, kota ini mampu bertahan memenuhi kebutuhan pasokan listrik yang semakin meningkat. bahkan warganya sanggup membayar tarif dasar listrik per kwh lebih tinggi dibandingkan tarif dasar pln, tentu saja dengan jaminan listrik yang tidak byar pet. tapi krisis listrik itu seperti penyakit menular, terutama bila mesinnya masih berbahan baku minyak dan gas. krisis minyak dan gas di negara ini membuat semaput pembangkit-pembangkit listrik yang membutuhkannya. sebuah ide “cerdas” disampaikan, untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar batubara, tentu banyak pihak, terutama warga kota, menyambut baik usulan ini. tapi sayangnya batubara yang akan digunakan berasal dari kota ini. entah apa karena biaya yang lebih murah atau ada alasan lain. padahal kota ini terletak di sebuah pulau kecil, padahal kawasan yang akan diambil batubaranya merupakan kawasan lindung kota. banyak yang takut akan dampak kerusakan lingkungan yang bisa ditimbulkan. tapi warga kota selalu dibayangi akan krisis listrik. walaupun sebenarnya masih bisa membeli batubara dari kabupaten tetangga kota ini. walau beberapa bulan ini tak ada lagi berita tentang hal itu, suatu saat pasti akan mencuat kembali, seiring meningkatnya kebutuhan akan pasokan listrik.

tapi biarlah kami melupakannya, sabagai mana orang-orang mulai melupakan menyebut simpang tiga, sebagai mana anak-anak menyebutnya thm atau grand mall.

Posted under the city by argolog on Wednesday 13 August 2008 at 10:27 pm

sungai karang anyar

hujan kali ini membuatku membayangkan rumah tempat aku dibesarkan, sebuah rumah tak jauh dari simpang tiga. hujan selebat dan selama ini tentu akan mengakibatkan banjir, dan bila lebih lama lagi banjir akan masuk ke rumah. walaupun letak rumahku tak tepat betul dari sebuah sungai kecil, sungai yang biasa disebut sungai karang anyar, karena letaknya di kelurahan karang anyar. anda mungkin kaget bila kondisinya normal, sungai itu dalamnya hanya semata kaki orang dewasa, tapi begitu banjir ia akan menjadi begitu dahsyat. ya, kawasan hutan di hulu sungai ini sudah rusak parah, dan banjir membawa lumpur dan pasir dari kawasan yang telah terbuka. bila saja pasir itu dikumpulkan, mungkin dengan banjir tahun ini saja sudah cukup untuk membangun sebuah rumah sederhana.

tapi itulah sungai karang anyar, dimana waktu kecil aku sering mendatanginya. dulu sebelum rumahku menggunakan jasa pdam untuk mendapatkan air bersih, kami menggunakannya untuk mandi dan mencuci. tapi dulu airnya tak sekotor dan sedangkal sekarang. aku juga sering mancing di sungai karang anyar, dan dulu banyak ikan wadernya, tak tahu kalau sekarang. tapi dari dulu sungai karang anyar juga banjir, walau tak separah sekarang, dimana setelah hujan reda, kami sering bermain menghanyutkan tubuh kami di airnya yang dangkal.

di tepi sungai banyak pohon bambu, yang sering digunakan anak-anak untuk membuat leduman (meriam bambu) saat bulan puasa, membuat layang-layang saat musim layangan, atau oleh orang dewasa digunakan untuk menakuti kami (yang masih anak-anak) agar tak keluar malam. selain itu dulu di dekatnya banyak pohon buah-buahan yang pada musimnya menyediakan buah-buahan segar bagi kami.

tak jauh dari rumahku ada sebuah jembatan kayu yang melintasi sungai karang anyar, dari jembatan ini kami bermain kapal-kapalan yang ditarik dengan benang. di jembatan ini juga keponakanku pernah jatuh ketika melintas dengan sepedanya, entah kenapa, mungkin dia ditakut-takuti karena di dekat jembatan banyak pohon bambunya. untung saja jembatannya tak begitu tinggi dari permukaan sungai. sudah beberapa kali jembatan ini direnovasi, tapi selalu menggunakan kayu, tapi mungkin juga lebih baik begitu agar orang yang mengendarai sepeda motor tak ngebut ketika melewatinya. sampai sekarang jembatan ini masih punya pengaruh untuk menakuti anak-anak, hal yang sudah dilakukan oleh orang-orang dewasa dulu terhadap kami ketika masih kecil-kecil. yah, selain karena gelap pepohonan di sekitarnya memberi kesan angker padanya, tapi untung juga jadinya tak ada orang yang pacaran di jembatan.

sungai ini bermuara ke laut tak jauh dari hutan mangrove gusher, dulu sewaktu kecil aku pernah diajak kawan-kawan mancing di sana, selepas mancing kami biasa mencari buah dari pohon-pohon bakau yang berbentuk seperti pisang tapi ukurannya kecil sekali. buah ini kami gunakan untuk permainan ketek-ketekan. dengan menggunakan karet gelang buah itu diluncurkan untuk mengenakan musuh. rasanya bisa sakit sekali bila dibidikan dari jarak dekat dan terkena kulit yang terbuka. tapi dulu pohon mangrove lebih banyak dibandingkan sekarang yang lebih banyak rumahnya.

sekarang tak ada anak-anak yang mau bermain di sungai karang anyar, airnya yang kotor dan bau serta banyaknya sampah, tentu membuat mereka akan dimarahi bila main di sungai. walaupun sudah banyak yang sadar untuk tidak buang sampah ke sungai, tapi masih ada saja yang melakukannya, bahkan banyak rumah-rumah yang saluran pembuangan tinjanya yang mengarah langsung ke sungai. semoga nanti orang-orang di sekitar sungai akan sadar untuk tidak membuang sekala bentuk kotoran ke sungai, menjaga daerah tangkapan dan resapan air di sekitarnya, sehingga sungai karang anyar tak lagi jadi mimpi buruk di musim hujan begini.

Posted under the city by argolog on Friday 9 May 2008 at 8:06 pm

gtm

tepat berhadapan dengan komplek pertokoan thm berdiri sebuah bangunan megah pusat perbelanjaan dan hotel. orang-orang biasa menyebutnya gtm singkatan dari grand tarakan mall. letaknya tepat di simpang empat paling sibuk di tarakan, tapi kami yang besar di dekat simpangan itu tetap memanggilnya simpang tiga. gtm menggantikan pasar tradisional yang dinamakan sesuai dengan nama simpang jalan itu dulu, pasar simpang tiga. pasar ini dipindahkan tidak jauh ke pusat pertokoan gusher tak jauh dari tepi laut di strat buntu.

gtm telah menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas masyarakat di kota ini, terutama pada hari-hari libur. beberapa acara seperti panggung hiburan, lomba dan pameran sering diadakan di hall lantai satu bangunan ini. selain itu masyarakat juga bisa mengunjungi toko buku tersebsar di tarakan. mengunjungi mall mungkin sudah menjadi bagian gaya hidup masyarakat kota kecil ini. posisinya yang berdampingan dengan thm membuatnya semakin ramai dikunjungi. bila tak menjumpai barang yang dicari di gtm bisa mencarinya ke thm atau sebaliknya.

beberapa kali mengunjungi gtm, membawaku ke belasan tahun sebelumnya, saat tempat itu masih berupa pasar tradisional. sekolah ku (sd) yang tak jauh dari pasar simpang tiga membuatku mengakrabinya. menelusuri jalan-jalan dan gang-gangnya yang becek dan kadang berbau busuk, para pedagang yang menjajakan barang-barang dengan penampilan seadanya, para pembeli yang bahkan belum sempat mandi untuk mendapatkan barang-barang belanjaan yang kualitasnya masih bagus pagi-pagi sekali. kini, berjalan menelusuri satu persatu toko di dalam bagunan ini kita menyaksikan pedagang dan pengunjung dengan penampilan terbaik mereka. tak ada lagi pedagang yang menggunakan sarung untuk menutupi tubuhnya, bahkan di beberapa tempat beberapa pemilik toko menggunakan jasa spg yang cantik dan seksi untuk menarik minat pengunjung agar membeli produk mereka. ada satu bank dan pusat atm di gtm, yang membuatku mengingat seorang penukar uang receh yang biasa berdiri di dekat pintu masuk pasar.

pada lantai tiga bangunan ini terdapat pusat penjualan makanan yang diberi nama food court, membuatku sekali mengingat tentang jajanan pasar yang banyak diperjualbelikan di pasar simpang tiga, jajanan yang ditunggu-tunggu ketika ibu atau kakakku pergi ke pasar. ibu atau kakakku biasa pergi ke pasar setelah sholat subuh, dan pulang sekitar pukul enam atau tujuh pagi, dan jadilah jajanan pasar sarapan sebelum sekolah. pada saat bersekolah di smp aku bahkan sempat menggantikan kakakku beberapa waktu pergi ke pasar, barang belanjaan yang sudah pasti harus dibeli adalah daging sapi, timun dan kelapa parut, barang-barang lain biasanya dibeli sesuai pesanan. setelah mengantarkan barang belanjaan, aku harus menunggu mobil yang mengantar ayam, untuk menyampaikan berapa banyak ayam yang akan kami beli hari itu. yah, dulu belum ada teknologi telepon seluler seperti sekarang, bahkan telepon rumahpun kami tak punya. jadi semua pesanan harus disampaikan secara langsung.

kembali ke gtm yang pada saat malam menampilkan kemolekkannya, lampu-lampu membuatnya semakin menarik untuk dikunjungi. sebuah hotel yang menjadi bagian dari gtm tak lama lagi akan dibuka, hotel yang menjadi bagian dari jaringan hotel novotel ini membuat gtm memiliki daya tarik tersendiri. sebuah perpaduan hotel dan pusat perbelanjaan yang pertama di tarakan. gtm, suatu saat aku akan mempunyai kenangan sendiri tentangmu seperti juga kenanganku akan pasar simpang tiga yang kau gusur.

Posted under the city by argolog on Thursday 1 May 2008 at 7:14 pm

di simpang jalan

bingung harus memilih yang mana!
mungkinkah kembali?

Posted under the city by argolog on Monday 14 April 2008 at 2:26 pm

subuh

subuh ini aku menyempatkan untuk berjalan-jalan di seputaran simpang tiga, cukup lama hal ini tak kulakukan, apalagi sekarang aku tak benar-benar tinggal di tarakan. hembusan angin menyapaku, bau udara lautpun terhirup. ini bau yang khas, yang tak bisa kudapatkan di semua tempat, hanya tempat-tempat di tepi laut yang menyediakannya. kembali membayangkan kota ini sewaktu aku kecil hingga sma dulu, walau kini wajah kota pulau ini tak lagi sama, namun udara dan bau lautnya masih tercium hingga sekarang. angin terus berhembus yang ditandai dengan kibaran kain-kain spanduk iklan operator telpon seluler. dulu hal ini akan ditandai dengan goyangan dan guguran daun-daun, namun kini hampir semua pohon-pohon itu menghilang. beberapa orang petugas kebersihan terlihat menyapu jalanan, debu-debu pun ikut berterbangan karenanya, dan aku pun beranjak pulang, segelas coklat panas pastinya cukup untuk menghangatkan tubuh.

Posted under the city by argolog on Sunday 23 March 2008 at 8:49 pm

tahun kedua

memasuki tahun kedua, walaupun semangat sempat menurun, namun tetap mencoba untuk bertahan dan berusaha lebih baik

Posted under the city by argolog on Tuesday 5 February 2008 at 9:32 pm

Next Page »